Sabtu, 26 November 2016

Alam Semesta

Kajian Mengenai Alam Semesta
Alam semesta merupakan ciptaan Allah swt yang didalamnya terdapat berbagai komponen, diantaranya adalah planet-planet, bintang, matahari, makhluk hidup, dll. Perkembangan sains dan teknologi juga turut menjelajahi perkembangan alam semesta termasuk fenomena-fenomena yang ada didalamnya. Menjelang abad ke-19 penyelidikan tentang asal mula alam raya bergerak dari pemikiran filsafat yang bersifat spekulatif menuju pemikiran ilmiah yang faktual, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Para pakar ilmu fisika awal abad ke-20 menyimpulkan bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan, sebagai akibat dari goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya negatif.
Kehadiran manusia yang pertama tidak terlepas dari asal-usul kehidupan di alam semesta ini. Asal-usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.[1] Sigmund Freud (Ahli Psikologi) mengemukakan bahwa manusia mengalami proses perkembangan dari bayi menjadi dewasa melalui tahap-tahap tertentu, yaitu tahap oral, anal, phalik, laten, pubertas, dan genital. Tahap-tahap perkembangan ini menggambarkan evolusi manusia dari tahapan yang sederhana hingga tahap yang lebih kompleks.
Alam semesta merupakan medium (sarana) untuk mengantarkan manusia pada pemahaman komprehensif guna menemukan hakikat dari kebenaran absolut. Namun demikian, al-Qur’an tidak membicarakan asal mula alam secara detail, tetapi dalam bentuk isyarat-isyarat yang menggambarkan penciptaan melalui proses bertahap (evolutif) dan memerlukan waktu, sebagaimana firman Allah yang tereksplisit dalam Q.S Hud berikut:
وَهُوَالَّذِى خَلَقَ السَّمَوتِ وَالارْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ، عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً قلى وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْآ إِنْ هَذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) diatas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Q.S. Hud: 7)
Para ahli fisika muslim kontemporer telah mengungkapkan isyarat-isyarat al-Qur’an tentang alam raya ini dikaitkan dengan kajian-kajian yang bersifat empirik atau eksperimental dengan menggunakan ayat-ayat sebagai petunjuk arah. Sedangkan ahli tafsir sangat bervariasi dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alam ini,tergantung pada penalaran dan kemampuannya. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan dalam memberikan interpretasi sangat wajar terjadi. Akan tetapi, pada hakikinya asal mula alam semesta dalam pandangan orang yang wahyuistik telah digambarkan dalam Q.S Al-Anam ayat 101, yang berbunyi:
بَدِيْعُ السَّموتِ وَالْاَرْضِ صلى أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ، وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ، صَحِبَةٌ صلى وَخَلَقَ كُلَّ شَىءٍ صلى وَهُوَ بِكُلِّ شَىءٍ عَلِيْمٌ
“Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Anam: 110)
Keterangan yang diberikan al-Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang terjadi dalam sekejap. Peristiwa ini yang dikenal dengan Big Bang, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.[2]




[1] Tohirin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 17
[2] Tohirin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 21


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...