Kajian
Mengenai Alam Semesta
Alam semesta merupakan ciptaan Allah swt yang didalamnya terdapat
berbagai komponen, diantaranya adalah planet-planet, bintang, matahari, makhluk
hidup, dll. Perkembangan sains dan teknologi juga turut menjelajahi
perkembangan alam semesta termasuk fenomena-fenomena yang ada didalamnya.
Menjelang abad ke-19 penyelidikan tentang asal mula alam raya bergerak dari
pemikiran filsafat yang bersifat spekulatif menuju pemikiran ilmiah yang
faktual, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Para pakar ilmu fisika
awal abad ke-20 menyimpulkan bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan,
sebagai akibat dari goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang
sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya negatif.
Kehadiran manusia yang pertama tidak terlepas dari asal-usul
kehidupan di alam semesta ini. Asal-usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak
bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain
yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.[1] Sigmund
Freud (Ahli Psikologi) mengemukakan bahwa manusia mengalami proses perkembangan
dari bayi menjadi dewasa melalui tahap-tahap tertentu, yaitu tahap oral, anal,
phalik, laten, pubertas, dan genital. Tahap-tahap perkembangan ini
menggambarkan evolusi manusia dari tahapan yang sederhana hingga tahap yang
lebih kompleks.
Alam semesta merupakan medium (sarana) untuk mengantarkan manusia
pada pemahaman komprehensif guna menemukan hakikat dari kebenaran absolut.
Namun demikian, al-Qur’an tidak membicarakan asal mula alam secara detail,
tetapi dalam bentuk isyarat-isyarat yang menggambarkan penciptaan melalui
proses bertahap (evolutif) dan memerlukan waktu, sebagaimana firman Allah yang
tereksplisit dalam Q.S Hud berikut:
وَهُوَالَّذِى
خَلَقَ السَّمَوتِ وَالارْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ، عَلَى
الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً قلى
وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ
الَّذِيْنَ كَفَرُوْآ إِنْ هَذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) diatas air, agar
Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu
berkata (kepada penduduk Mekkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah
mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain
hanyalah sihir yang nyata.” (Q.S. Hud: 7)
Para ahli fisika muslim kontemporer telah mengungkapkan
isyarat-isyarat al-Qur’an tentang alam raya ini dikaitkan dengan kajian-kajian
yang bersifat empirik atau eksperimental dengan menggunakan ayat-ayat sebagai
petunjuk arah. Sedangkan ahli tafsir sangat bervariasi dalam memahami ayat-ayat
al-Qur’an yang berkaitan dengan alam ini,tergantung pada penalaran dan
kemampuannya. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan dalam memberikan
interpretasi sangat wajar terjadi. Akan tetapi, pada hakikinya asal mula alam
semesta dalam pandangan orang yang wahyuistik telah digambarkan dalam
Q.S Al-Anam ayat 101, yang berbunyi:
بَدِيْعُ
السَّموتِ وَالْاَرْضِ صلى
أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ، وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ، صَحِبَةٌ صلى وَخَلَقَ كُلَّ
شَىءٍ صلى
وَهُوَ بِكُلِّ شَىءٍ عَلِيْمٌ
“Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana
Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala
sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Anam: 110)
Keterangan yang diberikan al-Qur’an ini bersesuaian penuh dengan
penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat
ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu,
muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang terjadi dalam
sekejap. Peristiwa ini yang dikenal dengan Big Bang, membentuk
keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta
dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan
ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya
penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta
dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.[2]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar