Minggu, 04 Desember 2016

Meretas Intelektual Pancasila Menuju Persatuan Indonesia

Meretas Intelektual Pancasila Menuju Persatuan Indonesia
Satu-satunya Kenangan yang Tersisa


Pagi yang cerah dengan suasana yang teduh. Hari ini adalah momen yang paling berharga bagiku selama duduk di bangku kelas XI SMA N 1 Mijen. Pengalaman hari inilah yang kutunggu-tunggu selama satu bulan terakhir ini. Ya, 23 Mei 2013 menjadi hari bersejarah dalam kehidupanku. Hari yang tidak bisa terulang untuk kedua kalinya.
Pagi itu aku berangkat pukul 05.15 WIB. Kenapa aku berangkat pagi-pagi sekali ya? Bukankah sekolah masuk pukul 07.00 WIB? Seperti yang aku katakan tadi, hari ini akan menjadi hari bersejarah dalam kehidupanku. Aku sampai di “warung pojok” sebuah tempat di Desa Bakung yang biasa kami sebut demikian. Dalam beberapa menit aku menunggu guruku yang siap untuk mengantarkanku bersama adik kelasku yang akan mengikuti lomba di UNNES (Universitas Negeri Semarang). Cukup lama aku menunggu, hingga pada akhirnya beliau pun sampai. Kira-kira pukul 05.40, akhirnya kami berangkat menuju tempat tujuan. Sayangnya, guru pembimbingku (Bapak Samidi) tidak bisa ikut mendampingi kesana karena pada saat yang bersamaan tengah berlangsung acara wisuda dan perpisahan bagi kakak-kakak kelas XII. Kebetulan beliau adalah wali kelas XII IPS 3, jadi beliau harus mendampingi anak didiknya yang akan diwisuda. Aku dan adik kelasku (panggil saja “Win”) ditemani oleh Bapak Imam dan Bapak Wahyu. Sebenarnya pagi itu aku dalam kondisi yang tidak “fit”, namun amanah dan tanggung jawab yang diberikan kepadaku lebih besar. Berbekal dari ilmu yang telah diajarkan oleh Bapak Samidi dan Bapak Wahyu, serta dukungan dan doa dari orang tua, aku memberanikan diri mengikuti lomba tersebut. Lomba tersebut adalah “Olimpiade Pancasila dan UUD 1945 Tingkat Jateng dan DIY”.
Sebelum lomba tersebut dilaksanakan, aku dan Win bekerja keras untuk bisa memahami Pancasila serta menghafal UUD 1945. Hal tersebut tidak menjadikan beban bagi kami karena kami tipe orang yang bisa menikmati proses pembelajaran. Seberat apapun tanggung jawab yang harus kami pikul, selama kami dipercaya untuk bisa menghadapinya, kami akan mengusahakan sesuatu yang terbaik bagi almamater kami. Bahkan, beberapa waktu sebelum lomba tersebut dilaksanakan, aku bersama teman-teman kelas XI yang lain tengah melaksanakan Study Tour di Bali selama 5 hari. Selama 5 hari itu pula, aku tetap harus mempelajari dan menghafal batang tubuh UUD 1945. Ketika teman-teman yang lain bisa dengan puas menikmati liburan mereka, aku hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia bersama tugas dan tanggung jawabku.
Selama perjalanan ke lokasi lomba, aku bersama Win merasa sedikit gugup dan cemas karena ini merupakan pengalaman pertama bagi kami. Dan tak terasa, kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata, pada babak pertama (pengerjaan soal-soal pilihan ganda), aku harus berpisah dengan Win karena kami ditempatkan di ruang yang berbeda. Karena pengalaman ini sudah berlalu cukup lama, aku jadi agak lupa seperti apa soal yang ku kerjakan dahulu. Seingatku, jumlahnya ada 100 soal dalam waktu 120 menit (kalau tidak salah). Nah, ini yang menjadi menarik di ruangan ujianku. Pada pertengahan pengerjaan, ada salah seorang peserta lomba yang berasal dari sebuah SMA (aku lupa namanya) yang tiba-tiba pingsan ketika tengah mengerjakan soal-soal tersebut. Akhirnya ia pun diamankan oleh panitia dan mendapatkan penanganan lebih lanjut. Cukup mengejutkan bagiku dan peserta yang lain. Ketika waktu pengerjaan selesai, kami pun mengumpulkan pekerjaan kami. Pada babak pertama ini, yang dinyatakan lolos untuk maju ke babak selanjutnya ada 15 anak, dari 130 peserta. Waktu pengumpulan lembar jawab pun menentukan apabila ternyata terdapat nilai yang sama. Namun, karena ruangannya terbagi dalam beberapa ruangan, hal tersebut menjadi tidak efektif dan efisien karena kita tentunya tidak tahu kan, pengumpulan tercepat antara kelas yang satu dengan yang lainnya (kecuali kalau itu hanya satu kelas, pasti masuk akal lah, jika ditentukan oleh waktu pengumpulan).
Selesai mengerjakan soal-soal di babak pertama membuatku bisa sedikit bernafas lega. Tinggal menunggu hasilnya. Waktu itu kami (aku dan Win) tengah berada di lantai 2 dan tiba-tiba Bapak Wahyu meminta kami untuk turun dan sekedar duduk-duduk di luar ruangan menikmati kampus UNNES. Baru sekitar lima menit aku duduk, aku mendapatkan sms dari salah seorang temanku (yang juga merupakan peserta lomba yang berasal dari SMA N 2 Demak) bahwa aku dipanggil untuk menuju ruang khusus dengan tujuan mengerjakan ulang soal-soal tadi dengan waktu yang dipersingkat karena nilaiku seri dengan peserta lomba yang berasal dari Salatiga (aku lupa dia berasal dari sekolah mana) dan kebetulan kami sama-sama mendapatkan peringkat 15. Ketika sampai di ruangan, dia sudah berada disana terlebih dahulu sehingga bisa dibilang secara mental, dia lebih siap dariku. Kami pun mengerjakan soal yang telah disediakan dan pengumpulannya hampir dalam waktu yang bersamaan. Aku merasa tegang ketika pengumuman 15 besar. Dengan penuh harapan, aku bisa lolos masuk 15 besar dan melangkah ke babak berikutnya, yaitu LCC (Lomba Cerdas Cermat). Dan ternyata, yang lolos masuk 15 besar bukanlah aku, melainkan peserta dari Salatiga tadi. Yah, tak apalah. Aku harus puas dengan membawa pulang peringkat 16 dari 130 peserta. Memang sangat mengecewakan bagi Bapak pembimbing, namun apalah dayaku. Hanya inilah yang bisa kupersembahkan. Dalam kesempatan kali ini, aku ingin meminta maaf kepada Bapak, apabila ketika itu Farizkha tidak bisa menjadi kebanggaan untuk Bapak.
Pengumuman 15 besar telah selesai dilaksanakan. Kami pun pulang, karena memang sudah tidak ada pekerjaan lagi. Setelah mengambil sertifikat dan makan siang yang telah disiapkan oleh panitia, kami pun pulang kembali ke SMA N 1 Mijen. Aku masih ingat ketika itu aku sampai di sekolah sekitar pukul 16.00 WIB. Acara wisuda pun sudah selesai, dan pada akhirnya aku pulang menuju rumah dengan membawa pengalaman yang akan menjadi cerita tersendiri di kehidupan yang akan datang. Aku sangat berterimakasih karena telah dipercayai untuk mengikuti lomba ini sehingga bisa mendapatkan pengalaman yang luar biasa yang tidak semua orang bisa merasakannya.

Hal yang terpenting dalam hal ini adalah beranilah bermimpi besar karena apa yang kita impikan adalah sesuatu yang mungkin bisa kita raih. Namun jangan lupa untuk berusaha. Karena sebuah mimpi besar harus bisa direalisasikan, bukan hanya digantung tanpa memberikan kepastian. Ingatlah bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...