Sabtu, 04 Februari 2017

AKTUALISASI PENGEMBANGAN SAINS DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

AKTUALISASI PENGEMBANGAN SAINS
DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9
DAN AL-QUR’AN SURAT AL-AN’AM AYAT 101

A.    Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia telah memberikan kontribusi yang besar untuk belajar dan menimba ilmu pengetahuan. Wahyu yang pertama kali turun juga mengisyaratkan kepada manusia untuk terus belajar dan mengkaji ciptaan Allah Swt. Dalam berbagai kesempatan, manusia dari waktu ke waktu terus melakukan pengkajian terhadap Al-Qur’an. Pada dasarnya, ilmu-ilmu yang ada didalam Al-Qur’an dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ilmu agama, ilmu kealaman  dan ilmu sosial humaniora. Namun semenjak abad ke-13 umat Islam mulai melakukan dikhotomi terhadap ilmu. Fiqh dianggap sebagai induk dan mahkota ilmu, dan ulama’ yang awalnya bermakna luas “orang yang berilmu” telah mengalami penyempitan makna menjadi “orang yang ahli dalam bidang fiqh”. Inilah penyebab awal dari kemunduran dalam dunia Islam.
Sebagian kalangan mengartikan sains adalah ilmu pengetahuan yang teratur (sistematik) yang boleh diuji atau dibuktikan kebenarannya.[1] Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method), misalnya sains fisika, kimia, biologi, astronomi, termasuk cabang-cabang yang lebih detail lagi seperti hematologi, zoologi, botani, cardiologi, metereologi, geologi, geofisika, dan lain-lain. Sedangkan agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Jadi agama juga merupakan basis dari segala ilmu pengetahuan. Maknanya pengembangan ilmu pengetahuan harus selaras dengan Al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman umat Islam menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia.
Selama empat belas abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an. Walaupun demikian terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami Al-Qur’an secara ayat per ayat bahkan kata perkata. Selain itu pemahaman akan Al-Qur’an terutama didasarkan pada pendekatan fisiologis gramatikal.[2]
Manusia sebagai khalifah di muka bumi wajib melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini selaras dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Saw yakni surat Al-Alaq ayat 1-5 yang memerintahkan manusia untuk “membaca”. Membaca dalam hal ini bukanlah sekedar membaca tanpa memahami maksud dan tujuannya, melainkan mengkaji dan menelaah terhadap fenomena yang terjadi di alam semesta. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkan kepada manusia untuk melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pada makalah berikut ini penulis mencoba memaparkan bagaimana pengembangan ilmu pengetahuan (sains) berdasarkan perspektif Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 9 dan Al-An’am ayat 101.

B.     Pengembangan Pemikiran Ilmu Pengetahuan (Sains) dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 9
Penggunaan Al-Qur’an dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari tujuan pokok Al-Qur’an yang bukan diarahkan untuk menerangkan persoalan-persoalan ilmiah, tetapi tujuannya adalah memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Hubungan ilmu pengetahuan dengan tujuan pokok Al-Qur’an tersebut dapat dilihat lebih lanjut dalam ayat berikut.
أَمَّنْ هُوَ قنِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ الأخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ والَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُوْ أُوْلُوْا اللأَلْببِ
Artinya: “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? “Adakah sama orang-orang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat tersebut merupakan suatu bentuk dorongan dari Al-Qur’an kepada umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.[3] Manusia dari zaman Nabi Adam hingga saat ini terus melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan. Pada zaman dahulu, atau kita biasa mendengarnya dengan zaman manusia purba, ilmu pengetahuan masih sebatas pengetahuan primitif. Manusia pada masa itu hanya memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup dan mendapatkan makanan. Sehingga muncullah yang namanya masa berburu dan meramu, kemudian pemikiran manusia pada masa itu semakin berkembang. Setelah hanya mencari makanan dengan berburu (mengandalkan alam), mereka mulai berpikir untuk bisa menghasilkan sendiri yaitu dengan bercocok tanam dan membuat barang-barang yang berguna bagi kehidupan mereka seperti kapak, peralatan masak, dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia mulai menelaah tentang fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta sehingga muncullah ilmu-ilmu baru seperti ilmu pengetahuan alam (natural sains) dan ilmu pengetahuan sosial (social sains). Didalam surat Az-Zumar tersebut dijelaskan bahwa hanya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Dari kalimat tersebut dapat dipahami bahwa manusia harus terus belajar. Lalu “apa yang dipelajari?” tentu saja ilmu pengetahuan. Kemudian “ilmu pengetahuan yang bagaimana?”. Ilmu pengetahuan yang dimaksud disini adalah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan memperhatikan objek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri.
Menurut Harun Nasution (1995) bahwa secara garis besar Sejarah (kebudayaan) Islam dapat dibagi kedalam tiga periode, yaitu: periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800 M s.d sekarang). Dalam realitas sejarahnya, periode klasik menggambarkan masa kejayaan, keemasan atau kemajuan dunia Islam, pada periode pertengahan menggambarkan masa kemunduran dunia Islam, dan pada periode modern menggambarkan masa kebangkitan dunia Islam.[4] Perkembangan pemikiran dunia Islam terjadi pada periode modern atau masa kebangkitan Islam (abad ke-18). Sebelumnya, yakni sekitar abad ke-13 umat Islam mengalami kemunduran karena pemikirannya yang sempit dengan melakukan dikhotomi terhadap ilmu-ilmu. Umat Islam memfokuskan diri pada fiqh dan fiqh dijadikan sebagai mahkota ilmu. Terjadi diskriminasi antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum sehingga ilmu pengetahuan umum tidak berkembang dan akhirnya lenyap. Akibatnya umat Islam sangat mudah dihegemoni oleh bangsa Barat.
Pada zaman klasik, Islam mengalami zaman keemasan karena para ulama dalam melaksanakan etos keilmuan lebih banyak mempergunakan akal untuk melaksanakan ajaran Al-Qur’an. Para ulama melaksanakan ajaran hadis untuk menuntut ilmu bukan hanya “ilmu agama” tetapi juga ilmu yang sampai di negeri Cina (bukan ilmu agama), mengembangkan ilmu agama dengan berijtihad dan mengembangkan ilmu pengetahuan (sains) dengan mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani yang terdapat di Timur Tengah pada zaman mereka, sehingga timbullah ulama fiqh, tauhid (kalam), tafsir, hadis, ulama bidang sains (ilmu kedokteran, matematika, optika, kimia, fisika, geografi) dan lain-lain.
Pada periode pertengahan, pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah tampaknya mengalami stagnasi dan surut, bahkan hilang dari dunia Islam dan pindah ke Eropa melalui mahasiswa-mahasiswa Barat yang datang belajar ke Andalusia (Spanyol Islam) dan melalui penerjemahan buku-buku Islam ke dalam bahasa Latin. Di Eropa berkembang Averroisme yang membawa pemikiran rasional, filosofis, dan ilmiah dari Ibnu Rusyd (filosof Islam abad ke-12 M). Averroisme mendorong lahirnya Renaissans di Eropa, yang kemudian membawa Eropa ke zaman modern dengan kemajuannya yang pesat dalam sains dan teknologi.[5] Para ulama pada masa ini tidak berani melakukan ijtihad dan pengetahuan mereka terbatas pada ilmu agama saja karena ilmu pengetahuan umum tidak berkembang lagi dan akhirnya lenyap. Pada periode ini pengembangan ilmu fiqh adalah yang paling menonjol, sehingga berbagai masalah sosial kemasyarakatan dan sebagainya selalu dilihat dari sudut pandang (paradigma) fiqh. Motivasi pengembangan ilmu fiqh ini sering dikaitkan dengan firman Allah Swt.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menyadari dirinya.” (QS. At-Taubah, 9: 122)
Menurut al-Maraghi ayat tersebut memberi isyarat tentang kewajiban memperdalam ilmu agama (wujub al-tafaqqub fi al-din) serta menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya.[6] Umat Islam pada masa itu memiliki keyakinan bahwa mempelajari fiqh adalah wajib. Padahal yang dimaksud kata tafaqquh dalam ayat ini adalah memperdalam ilmu agama, baik itu ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu tafsir, ilmu tasawuf, dan sebagainya. Ayat ini juga menjelaskan betapa pentignya ilmu pengetahuan agama untuk dipelajari dan dikembangkan demi kemaslahatan umat manusia. Jika manusia tidak memperlajari ilmu agama, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara pengetahuan dengan etika karena didalam agama mengajarkan bagaimana manusia beretika terhadap ilmu pengetahuan.
Pada periode modern (abad ke-19 M), orang Eropa yang dahulunya mundur dan sekarang maju itu datang ke dunia Islam. Dunia Islam terkejut dan tidak menyangka bahwa Eropa yang telah mereka kalahkan pada zaman klasik itu, ternyata pada periode modern menguasai mereka. Kerajaan Turki Usmani pada zaman pertengahan (abad ke-18 M), mulai mengalami kekalahan dalam peperangannya di Eropa. Napoleon Bonaparte dalam masa tiga minggu dapat menguasai seluruh Mesir pada 1798 M, Inggris memasuki India dan menghancurkan Kerajaan Mughal pada 1857 M. Dalam keadaan demikian inilah, dunia Islam bangkit dan muncul kesadaran bahwa mereka telah mundur dan jauh ditinggalkan Eropa. Karena itu timbullah ulama dan para pemikir Islam dengan ide-ide yang bertujuan memajukan dunia Islam dan mengejar ketinggalan dari Barat, sehingga dunia Islam pun memasuki periode modern.[7] Ilmu pengetahuan pada masa ini perlahan mulai bangkit kembali. Lahirlah tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang mampu mengadakan perubahan dan pembaharuan terhadap dunia Islam yang sudah semakin tertinggal dari bangsa Barat.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa perkembangan pemikiran di dunia Islam mengalami pasang surut. Islam yang dulunya mengalami masa kejayaan dan keemasan dibandingkan dengan bangsa Barat menjadi terbelakang pada periode pertengahan. Bahkan ilmu-ilmu yang dibawa oleh bangsa Barat dianggap sebagai “kafir” bagi yang mempelajarinya. Padahal bangsa Barat menyalin dan mempelajari ilmu-ilmu tersebut dari kitab-kitab umat muslim pada masa klasik dengan diganti menggunakan bahasa mereka. Ilmu pengetahuan pada periode pertengahan ini benar-benar mengalami kemerosotan yang sangat drastis sehingga bangsa Barat dengan mudahnya melakukan penjajahan terhadap negara-negara muslim. Seiring dengan berjalannya waktu, para pemikir muslim mulai melakukan gerakan pembaharuan sehingga Islam bangkit kembali dan para cendekiawan muslim terus melakukan pengkajian terhadap sains dan agama dengan tidak melakukan dikhotomi terhadap keduanya. Pada dasarnya, Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia untuk melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan (sains). Oleh karena itu, pada masa sekarang ini para ilmuwan telah banyak melakukan penelitian dan penemuan baik di bidang sains murni maupun sains terapan.

C.    Pengembangan Sains dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am Ayat 101
Wacana tentang “sains” dan “agama” bisa dikatakan menemukan bentuk barunya dalam sekitar empat dasawarsa terakhir ini. Meskipun telah amat lama dibahas, sains sebagai disiplin modern baru pada beberapa dasawarsa terakhir ini ia tumbuh subur secara sistematik.[8] Pada abad ke-13 terjadi dikhotomi ilmu dimana umat muslim hanya memfokuskan diri pada ilmu fiqh karena fiqh dianggap sebagai induk ilmu atau mahkota ilmu. Inilah yang menjadi penyebab awal kemunduran umat Islam. Padahal semua ilmu itu penting dan integrasi antara agama dengan sains merupakan bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Hakikat inilah yang menjadi dasar perkembangan penelitian ilmiah para ilmuwan dalam mengkaji Al-Qur’an.
Dalam perspektif historis, pada peradaban pra modern seperti Yunani, Cina, India, dan peradaban Islam Klasik, paradigma ilmu pengetahuan (yang lebih dikenal dengan paradigma ilmu pengetahuan tradisional) adalah bersifat integratif. Ini berbeda dengan paradigma ilmu pengetahuan (Barat) modern, baik dalam hal tujuan, metodologi, sumber inspirasi, maupun asumsi-asumsi dasar filosofisnya tentang manusia, pengetahuan dan realitas alam semesta. Dalam paradigma ilmu pengetahuan tradisional, antara dimensi empirik dan dimensi spiritual masih dalam suatu peta keilmuan, tanpa terpilah. Seperti dikatakan Osman Bakar bahwa: “Perbedaan utama lainnya antara sains pra-modern dan modern adalah mengenai posisi sains dalam hubungannya dengan jenis pengetahuan lain. Dalam peradaban-peradaban pra-modern, sains tak pernah dipisahkan dari pengetahuan spiritual. Sebaliknya, kita temukan sebuah kesatuan organik antara sains dan pengetahuan spiritual.”[9]
Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains). Al-Qur’an dan al-Sunnah mengajak umat manusia untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Secara jelas, Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mengadakan observasi, berfikir, meneliti, dan memperoleh ilmu tersebut. Pada motivasi ini secara eksplisit tercantum pada QS. Al-Ankabut ayat 20 yang menyatakan:
قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْأَخِرَةَ ج إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut: 20)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengunjungi tempat-tempat di muka bumi seraya memperhatikan dan memikirkan bagaimana Allah telah menciptakan makhluk-Nya. Perhatikanlah susunan langit dan bumi, serta ribuan bintang yang gemerlapan, sebagian ada yang tetap pada posisinya, tetapi berputar pada garis orbitnya. Demikian juga di bumi, gunung-gunung dan daratan yang luas diciptakan Allah sebagai tempat hidup. Beraneka ragam tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, sungai dan lautan yang terbentang luas.
“Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaanya?”. Redaksi Al-Qur’an disini menggunakan kata kerja masa lalu (past tense) “Bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya?”. Hal yang demikian itu seperti galian-galian purbakala yang diteliti oleh beberapa ilmuwan pada saat ini guna mengetahui garis kehidupan darinya. Bagaimana kehidupan itu dimulai? Bagaimana berkembangnya? Bagaimana ia meningkat? Jika mereka tak sampai kepada pengetahuan tentang rahasia kehidupan, maka apakah kehidupan itu? Darimana datangnya kehidupan itu ke bumi? Bagaimana makhluk hidup yang pertama ada di bumi?.[10]
Alam semesta merupakan medium (sarana) untuk mengantarkan manusia pada pemahaman komprehensif guna menemukan hakikat dari kebenaran absolut.[11] Alam dan Al-Qur’an berasal dari sumber yang sama yaitu Allah Swt. Perbedaannya adalah bahwa alam merupakan ayat yang diciptakan, sedangkan Al-Qur’an merupakan ayat yang diturunkan (wahyu). Oleh karena itu, bagi seorang ilmuwan muslim, kegiatan sains seharusnya menjadi suatu usaha untuk membaca dan menafsirkan “kitab Alam”  sebagaimana halnya ia membaca dan menafsirkan Al-Qur’an. Berbicara mengenai asal-usul alam semesta, Al-Qur’an secara tereksplisit telah menjelaskan dalam QS. Al-An’am berikut:
بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ صلى أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ, وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ, صَحِبَةٌ صلى وَخَلَقَ كُلَّ شَىءٍ صلى وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: “Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 101)
Keterangan yang diberikan Al-Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang terjadi dalam sekejap. Peristiwa ini yang dikenal dengan Big Bang, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada. Sensor yang sangat peka pada satelit ruang angkasa, yakni COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Fakta penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, juga merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.[12]
Alam semesta merupakan ciptaan Allah swt yang didalamnya terdapat berbagai komponen, diantaranya adalah planet-planet, bintang, matahari, makhluk hidup, dan lain sebagainya. Perkembangan sains dan teknologi juga turut menjelajahi perkembangan alam semesta termasuk fenomena-fenomena yang ada didalamnya. Menjelang abad ke-19 penyelidikan tentang asal mula alam raya bergerak dari pemikiran filsafat yang bersifat spekulatif menuju pemikiran ilmiah yang faktual, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Para pakar ilmu fisika awal abad ke-20 menyimpulkan bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan, sebagai akibat dari goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya negatif.
Teori Big Bang seperti yang telah dijelaskan diatas merupakan wujud dari pengembangan ilmu pengetahuan, dimana dalam teori tersebut disebutkan bahwa alam semesta ini pada awalnya merupakan satu bola yang terus mengembang karena suhu yang sangat panas. Karena perkembangan suhu tersebut semakin panas (bisa diibaratkan seperti roti kismis yang sedang dipanggang), maka terjadilah ledakan besar sehingga bola tersebut akhirnya pecah dan menjadi butiran-butiran kecil. Butiran-butiran itulah yang kemudian menjadi planet-planet yang kita kenal sampai saat ini berjumlah 8 yaitu; Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Awalnya penemuan planet tersebut berjumlah sembilan yaitu ditambah dengan ‘Pluto’. Namun, penemuan ilmuwan akhir-akhir ini menjelaskan bahwa Pluto sudah tidak bisa dikategorikan sebagai planet lagi karena keberadaannya yang tidak statis pada garis orbitnya.
Penelitian mengenai terciptanya alam semesta ini dari masa ke masa mengalami perkembangan dan dengan penelitian itu muncullah ilmu-ilmu pengetahuan yang baru. Saat ini, kita dapat dengan mudah mengetahui iklim dan cuaca yang akan terjadi ‘tentu saja karena adanya pengkajian sains’, yaitu dengan lahirnya ilmu klimatologi dan metereologi. Kemudian dalam bidang astronomi, kita telah banyak mendapatkan kemudahan dengan adanya ilmu tersebut dan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Salah satu contoh dari aktualisasi ilmu ini yaitu adanya penetapan awal ramadhan, penetapan 1 syawal, dan lain sebagainya. Hal ini selaras dengan perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 101 yaitu perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Memang Al-Qur’an bukanlah suatu buku yang menerangkan hukum-hukum alam. Namun Al-Qur’an mengungkap fenomena-fenomena alam dan mencoba untuk menghubungkan manusia dengan Allah sebagai pencipta dan pembimbing manusia, agar manusia menyadari keberadaannya ditengah-tengah alam sebagai bagian dari rencana Allah.

D.    Pengembangan Sains di Indonesia
Dilihat dari segi historis-sosiologis, pengembangan ilmu pengetahuan (sains) di Indonesia terbagi menjadi dua periode, yaitu periode sebelum Indonesia merdeka (1900 – menjelang 1945) dan periode Indonesia merdeka (1945 – sekarang). Pembagian tersebut didasarkan atas asumsi bahwa diskursus pengembangan pendidikan Islam pada periode sebelum Indonesia merdeka pada dasarnya lebih ditujukan pada upaya menghadapi pendidikan kolonial, sedangkan pada periode Indonesia merdeka diarahkan pada upaya integrasi pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional.[13]
Pada awal abad 20 M, pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua golongan, yaitu: (1) pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah Barat yang sekuler yang tak mengenal ajaran agama; dan (2) pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenal agama saja.[14] Jadi ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia pada masa ini masih terpecah belah dan belum bisa menjadi satu kesatuan sehingga ilmu pengetahuan tersebut sulit untuk berkembang. Pelajar dari kalangan pesantren hanya mendapatkan ilmu agama saja, hal tersebut mengakibatkan mereka tidak bisa berkembang dan tidak mengetahui isu-isu yang terjadi di dunia serta tidak mengetahui ilmu pengetahuan umum. Padahal seharusnya antara sains dengan ilmu agama harus dapat diintegrasikan karena akan mendatangkan hasil yang sangat cemerlang sehingga masyarakat Indonesia mampu melawan pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia perlu mengadakan perubahan paradigma sains dan agama dengan jalan, misalnya; (1) mendirikan tempat-tempat pendidikan dimana ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum diajarkan bersama-sama; (2) memberikan tambahan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum yang sekuler. Hal ini diharapkan mampu melahirkan ulama-ulama (intelegensia) baru yang selain pandai dalam ilmu-ilmu agama juga memahami ilmu-ilmu pengetahuan umum.
Pada masa awal kemerdekaan, pemerintah dan bangsa Indonesia mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualistis, yaitu: (1) sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah umum yang sekuler, tak mengenal ajaran agama, yang merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda; (2) sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Islam sendiri, baik yang bercorak isolatif-tradisional maupun yang bercorak sintesis dengan berbagai variasi pola pendidikan.[15] Pada perkembangannya, para pendiri bangsa Indonesia yang pada saat itu diketuai oleh Ki Hajar Dewantara membuat suatu rumusan yang memberikan gambaran yang jelas tentang satu sistem pengajaran nasional. Dengan pernyataan bahwa “pendidikan dan pengajaran nasional bersendi agama dan kebudayaan bangsa serta menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan masyarakat”, dan bahwa “usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan bangsa”, nampaknya para pendiri bangsa dan negara ini ingin menekankan bahwa yang dikehendaki dengan satu sistem pengajaran nasional bukanlah sistem pendidikan dan pengajaran warisan pemerintah kolonial Belanda yang bercorak sekuler dan netral terhadap agama, tetapi bukan pula sistem pendidikan Islam warisan dari umat Islam. Nampaknya mereka mengehendaki terjadinya perpaduan atau integrasi antara kedua sistem pendidikan dan pengajaran warisan budaya bangsa tersebut menjadi “satu sistem pendidikan nasional”
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan (sains) yang berkembang di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan bersifat sekuler yaitu memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Namun pada masa setelah kemerdekaan, muncullah gagasan-gagasan baru dari para pendiri bangsa untuk mengintegrasikan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum (sains). Hal ini dibuktikan dengan pengembangan penerapan pengajaran yang ada pada saat ini. Sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan, juga memberikan materi pelajaran ilmu pengetahuan umum kepada peserta didiknya. Dan sekolah-sekolah umum juga tidak lupa untuk memberikan materi-meteri keagamaan kepada peserta didiknya demi kemaslahatan masyarakat dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Ada pepatah mengatakan “agama tanpa ilmu itu pincang sedangkan ilmu tanpa agama itu buta”. Jadi, antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum haruslah seimbang.

E.     Kesimpulan dan Penutup
Al-Qur’an sebagai “kitab Alam” telah mengisyaratkan kepada manusia untuk melakukan pengkajian terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta. Didalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 9 telah dijelaskan bahwa manusia harus melakukan pengembangan terhadap ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga mengungkapkan pujian atas keutamaan ilmu, keutamaan ilmu, kemuliaan ulama, dan keluhuran derajat. Al-Qur’an menempatkan ilmuwan pada kedudukan yang luhur seperti halnya kedudukan ilmu.seperti pada penciptaan Adam, Al-Qur’an mengatakan bahwa malaikat pun disuruh bersujud dihadapan Adam setelah ia diajari nama-nama (ilmu pengetahuan). Pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam mengalami pasang surut. Pada periode klasik, ilmu pengetahuan umat Islam mencapai tingkat kejayaanya dan lahirlah tokoh-tokoh ilmuwan muslim yang terkenal seperti Ibnu Sina (Ahli dalam bidang kedokteran), Al-Khawarizmi (ahli dalam bidang ilmu pasti dan penemu angka nol), Al-Kindi (ahli filsafat), dan lain sebagainya. Namun pada periode pertengahan, ilmu pengetahuan mengalami kemerosotan yang sangat drastis karena adanya dikhotomi terhadap ilmu. Kemudian pada periode modern, ilmu pengetahuan dalam dunia Islam mulai bangkit kembali dan lahirlah cendekiawan-cendekiawan muslim yang berusaha mengintegrasikan antara ilmu agama dengan sains.
Alam semesta merupakan ciptaan Allah Swt yang didalamnya terdapat berbagai komponen seperti planet, bintang, matahari, dll. Asal mula terciptanya alam semesta telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an salah satunya adalah QS. Al-An’am ayat 101. Ayat ini menjelaskan bahwa alam semesta ini tercipta dari suatu ketiadaan (Teori Big Bang). Pengkajian terhadap alam semesta semakin berkembang pesat sehingga pada saat ini lahirlah ilmu-ilmu baru yang bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada umat manusia seperti ilmu metereologi, klimatologi, astronomi, dan lain sebagainya.
Dilihat dari segi historis-sosiologis, pengembangan ilmu pengetahuan (sains) di Indonesia terbagi menjadi dua periode, yaitu periode sebelum Indonesia merdeka dimana ilmu pengetahuan pada masa ini masih bersifat sekularistik dan periode Indonesia merdeka. Pada periode yang kedua ini ilmu pengetahuan sudah tidak bersifat sekuler, tetapi lebih pada integrasi antara ilmu agama dengan sains.










DAFTAR PUSTAKA

Abdurrachman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2001.
Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Ahmad As Shouwy, dkk, Mu’jizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013.
Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Sayyid Quthb, Tafsir fi zhilalil Qur’an dibawah naungan Al-Qur’an, jil. 9, Jakarta: Gema Insani Pers, 2004.




[1] Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 11
[2] Ahmad As Shouwy, dkk, Mu’jizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hlm. 24
[3] Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 80
[4] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 18
[5] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pnngembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 21
[6] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 159
[7] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pnngembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 22
[8]Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, ... hlm. 78-79
[9] Abdurrachman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 103-104
[10] Sayyid Quthb, Tafsir fi zhilalil Qur’an dibawah naungan Al-Qur’an, jil. 9, (Jakarta: Gema Insani Pers, 2004), hlm. 98
[11] Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, ... hlm. 19
[12] Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, ... hlm. 20-21
[13] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 69
[14] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 70
[15] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 82

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...