Meretas
Intelektual Pancasila Menuju Persatuan Indonesia
![]() |
| Satu-satunya Kenangan yang Tersisa |
Pagi yang cerah dengan suasana yang teduh. Hari ini adalah momen
yang paling berharga bagiku selama duduk di bangku kelas XI SMA N 1 Mijen.
Pengalaman hari inilah yang kutunggu-tunggu selama satu bulan terakhir ini. Ya,
23 Mei 2013 menjadi hari bersejarah dalam kehidupanku. Hari yang tidak bisa
terulang untuk kedua kalinya.
Pagi itu aku berangkat pukul 05.15 WIB. Kenapa aku berangkat
pagi-pagi sekali ya? Bukankah sekolah masuk pukul 07.00 WIB? Seperti yang aku
katakan tadi, hari ini akan menjadi hari bersejarah dalam kehidupanku. Aku
sampai di “warung pojok” sebuah tempat di Desa Bakung yang biasa kami sebut
demikian. Dalam beberapa menit aku menunggu guruku yang siap untuk
mengantarkanku bersama adik kelasku yang akan mengikuti lomba di UNNES
(Universitas Negeri Semarang). Cukup lama aku menunggu, hingga pada akhirnya
beliau pun sampai. Kira-kira pukul 05.40, akhirnya kami berangkat menuju tempat
tujuan. Sayangnya, guru pembimbingku (Bapak Samidi) tidak bisa ikut mendampingi
kesana karena pada saat yang bersamaan tengah berlangsung acara wisuda dan
perpisahan bagi kakak-kakak kelas XII. Kebetulan beliau adalah wali kelas XII
IPS 3, jadi beliau harus mendampingi anak didiknya yang akan diwisuda. Aku dan
adik kelasku (panggil saja “Win”) ditemani oleh Bapak Imam dan Bapak
Wahyu. Sebenarnya pagi itu aku dalam kondisi yang tidak “fit”, namun amanah dan
tanggung jawab yang diberikan kepadaku lebih besar. Berbekal dari ilmu yang
telah diajarkan oleh Bapak Samidi dan Bapak Wahyu, serta dukungan dan doa dari
orang tua, aku memberanikan diri mengikuti lomba tersebut. Lomba tersebut
adalah “Olimpiade Pancasila dan UUD 1945 Tingkat Jateng dan DIY”.
Sebelum lomba tersebut dilaksanakan, aku dan Win bekerja keras untuk
bisa memahami Pancasila serta menghafal UUD 1945. Hal tersebut tidak menjadikan
beban bagi kami karena kami tipe orang yang bisa menikmati proses pembelajaran.
Seberat apapun tanggung jawab yang harus kami pikul, selama kami dipercaya
untuk bisa menghadapinya, kami akan mengusahakan sesuatu yang terbaik bagi
almamater kami. Bahkan, beberapa waktu sebelum lomba tersebut dilaksanakan, aku
bersama teman-teman kelas XI yang lain tengah melaksanakan Study Tour di
Bali selama 5 hari. Selama 5 hari itu pula, aku tetap harus mempelajari dan
menghafal batang tubuh UUD 1945. Ketika teman-teman yang lain bisa dengan puas
menikmati liburan mereka, aku hanya bisa tersenyum dan ikut bahagia bersama
tugas dan tanggung jawabku.
Selama perjalanan ke lokasi lomba, aku bersama Win merasa sedikit
gugup dan cemas karena ini merupakan pengalaman pertama bagi kami. Dan tak
terasa, kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata, pada babak pertama
(pengerjaan soal-soal pilihan ganda), aku harus berpisah dengan Win karena kami
ditempatkan di ruang yang berbeda. Karena pengalaman ini sudah berlalu cukup
lama, aku jadi agak lupa seperti apa soal yang ku kerjakan dahulu. Seingatku,
jumlahnya ada 100 soal dalam waktu 120 menit (kalau tidak salah). Nah,
ini yang menjadi menarik di ruangan ujianku. Pada pertengahan pengerjaan, ada
salah seorang peserta lomba yang berasal dari sebuah SMA (aku lupa namanya)
yang tiba-tiba pingsan ketika tengah mengerjakan soal-soal tersebut. Akhirnya
ia pun diamankan oleh panitia dan mendapatkan penanganan lebih lanjut. Cukup
mengejutkan bagiku dan peserta yang lain. Ketika waktu pengerjaan selesai, kami
pun mengumpulkan pekerjaan kami. Pada babak pertama ini, yang dinyatakan lolos
untuk maju ke babak selanjutnya ada 15 anak, dari 130 peserta. Waktu pengumpulan
lembar jawab pun menentukan apabila ternyata terdapat nilai yang sama. Namun,
karena ruangannya terbagi dalam beberapa ruangan, hal tersebut menjadi tidak
efektif dan efisien karena kita tentunya tidak tahu kan, pengumpulan tercepat
antara kelas yang satu dengan yang lainnya (kecuali kalau itu hanya satu kelas,
pasti masuk akal lah, jika ditentukan oleh waktu pengumpulan).
Selesai mengerjakan soal-soal di babak pertama membuatku bisa
sedikit bernafas lega. Tinggal menunggu hasilnya. Waktu itu kami (aku dan Win)
tengah berada di lantai 2 dan tiba-tiba Bapak Wahyu meminta kami untuk turun
dan sekedar duduk-duduk di luar ruangan menikmati kampus UNNES. Baru sekitar
lima menit aku duduk, aku mendapatkan sms dari salah seorang temanku (yang juga
merupakan peserta lomba yang berasal dari SMA N 2 Demak) bahwa aku dipanggil
untuk menuju ruang khusus dengan tujuan mengerjakan ulang soal-soal tadi dengan
waktu yang dipersingkat karena nilaiku seri dengan peserta lomba yang berasal
dari Salatiga (aku lupa dia berasal dari sekolah mana) dan kebetulan
kami sama-sama mendapatkan peringkat 15. Ketika sampai di ruangan, dia sudah
berada disana terlebih dahulu sehingga bisa dibilang secara mental, dia lebih
siap dariku. Kami pun mengerjakan soal yang telah disediakan dan pengumpulannya
hampir dalam waktu yang bersamaan. Aku merasa tegang ketika pengumuman 15
besar. Dengan penuh harapan, aku bisa lolos masuk 15 besar dan melangkah ke
babak berikutnya, yaitu LCC (Lomba Cerdas Cermat). Dan ternyata, yang lolos
masuk 15 besar bukanlah aku, melainkan peserta dari Salatiga tadi. Yah, tak
apalah. Aku harus puas dengan membawa pulang peringkat 16 dari 130 peserta.
Memang sangat mengecewakan bagi Bapak pembimbing, namun apalah dayaku. Hanya
inilah yang bisa kupersembahkan. Dalam kesempatan kali ini, aku ingin meminta
maaf kepada Bapak, apabila ketika itu Farizkha tidak bisa menjadi kebanggaan
untuk Bapak.
Pengumuman 15 besar telah selesai dilaksanakan. Kami pun pulang,
karena memang sudah tidak ada pekerjaan lagi. Setelah mengambil sertifikat dan
makan siang yang telah disiapkan oleh panitia, kami pun pulang kembali ke SMA N
1 Mijen. Aku masih ingat ketika itu aku sampai di sekolah sekitar pukul 16.00
WIB. Acara wisuda pun sudah selesai, dan pada akhirnya aku pulang menuju rumah dengan
membawa pengalaman yang akan menjadi cerita tersendiri di kehidupan yang akan
datang. Aku sangat berterimakasih karena telah dipercayai untuk mengikuti lomba
ini sehingga bisa mendapatkan pengalaman yang luar biasa yang tidak semua orang
bisa merasakannya.
Hal yang terpenting dalam hal ini adalah beranilah bermimpi besar
karena apa yang kita impikan adalah sesuatu yang mungkin bisa kita raih. Namun
jangan lupa untuk berusaha. Karena sebuah mimpi besar harus bisa
direalisasikan, bukan hanya digantung tanpa memberikan kepastian. Ingatlah
bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
