Permata yang Hilang
Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang
sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak jarang juga, ada yang merasa
terganggu dengan kehadiran seorang adik. Mereka beranggapan bahwa ketika
memiliki seorang adik, maka kasih sayang dari orang tua akan terbagi. “Lalu,
bagaimana sosok adik bagi Anda? Apakah seperti argumen yang pertama ataukah
sebaliknya?” Tentu beragam jawaban akan menghiasi “brain” Anda saat ini.
Najma, itulah
namanya. Nama indah penuh makna yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Sudah
sangat lama Najma mengharapkan kehadiran seorang adik. Dia merasa kesepian
karena tidak memiliki saudara. Meskipun ia masih berusia 5 tahun, tetapi
pemikirannya berbeda dengan anak-anak seusianya. Ia selalu ingin berbagi
kebahagiaan kepada orang-orang disekitarnya. Kemudian terlintas dalam benaknya
untuk memiliki seorang adik karena ia juga ingin berbagi kebahagiaan bersama
adiknya suatu saat nanti.
Waktu yang
dinantikannya pun tiba. Tepat pada tanggal 29 Juni 2002, Najma memliki seorang
adik laki-laki yang sangat tampan yang diberi nama Arjuna. Betapa bahagianya
hati Najma hingga ia tidak mau melewati hari tanpa adiknya (yang masih bayi
itu). Perputaran bumi diikuti dengan berlalunya hari, Ayah Najma pergi ke
luar Jawa untuk bekerja. Najma, Ibu dan Arjuna pun tinggal di rumah tanpa
kehadiran seorang Ayah. Jangkauan teknologi pada saat itu memang masih sulit.
Jadi mereka tidak bisa selalu berkomunikasi. Kami mengetahui kabar Ayah hanya
ketika ada tetangga kami yang pulang dari perantauan. Kami pun sudah terbiasa
dengan keadaan yang seperti ini karena memang Ayah memperoleh rizqi dan bisa
menafkahi kami melalui jalan itu. Tempat kami berpijak memang berbeda, namun
langit yang kami pandang tetaplah sama.
Hari demi hari
berganti, hingga pada akhirnya Arjuna terkena penyakit yang sangat aneh.
Perutnya terus membesar dan tiap malam ia selalu menangis. Padahal ketika itu Arjuna
masih berusia 1 bulan. Ibu dan Najma sudah membawa Arjuna ke dokter namun tidak
ada perubahan. Perutnya masih terus dalam keadaan demikian dan setiap malam pun
ia masih tetap menangis “kesakitan”. Kemudian, Ibu membawa Arjuna ke
rumah sakit. Namun rumah sakit itu pun menolak dan mengatakan bahwa mereka
tidak sanggup untuk mengobati Arjuna. Betapa gundahnya perasaan Ibu Najma
ketika itu. Tanpa didampingi Ayah, ia terus berusaha untuk mengobatkan Arjuna.
Ia mengharapkan yang terbaik untuk Arjuna, namun ia juga sempat hampir berputus
asa. Namun melihat Najma yang sangat menyayangi Arjuna, Ibu mampu bangkit dan
bersemangat untuk kesembuhan Arjuna.
Selanjutnya,
Ibu membawa Arjuna ke rumah sakit yang ada di pusat kota. Alhamdulillah, mereka
mau menerimanya dan mau berjuang untuk kesembuhan Arjuna. Ibu sedikit lega. Di
rumah sakit itu, Arjuna adalah pasien dengan usia termuda diantara pasien yang
lain. Berminggu-minggu kami berada disana. Najma pun dengan setia menemani Arjuna
berjuang melawan rasa sakitnya. Setiap hari, sepulang sekolah Najma selalu
datang ke rumah sakit untuk menengok adik yang sangat disayanginya itu. Setiap
hari sekitar pukul 09.00 WIB dan 14.00 WIB, dokter selalu mengambil darah Arjuna
untuk dicek di lab. Itu berjalan selama berminggu-minggu. Sudah banyak sekali
bekas suntikan yang ada di tangan Arjuna. Namun ia tidak pernah menangis seolah-olah
ia tidak merasakan sakit.
Baru kali ini
aku melihat seorang anak kecil yang luar biasa. Tuhan menjaganya dengan sangat
baik. Ia kuat karena doa tulus dari keluarganya. Kakak dengan seorang Ibu yang
luar biasa. Berjuang keras dengan penuh pengharapan untuk kesembuhan adiknya.
Kasih sayang yang terjalin diantara mereka sungguh kasih sayang yang tulus.
Berita tentang
sakitnya Arjuna pun sampai ke telinga Ayah. Namun apa daya Ayah, ia tidak bisa
pulang karena terpaut biaya. Ayah hanya mampu mengirimkan doa yang terbaik
untuk Arjuna.
Lebih dari dua
minggu Arjuna berada di rumah sakit itu, namun masih tidak ada perubahan pada
dirinya. Hingga pada akhirnya, dokter berkata kepada Ibu “Mohon maaf Bu, kami
sudah tidak sanggup lagi mengobati anak Ibu. Semoga Tuhan menunjukkan jalan
yang terbaik untuk Ibu dan keluarga.” Mendengar perkataan itu, Ibu merasa
sangat sedih. Beliau pun menjawab, “Terimakasih telah berjuang untuk anak
saya.”
Dengan penuh
perasaan sedih, Ibu membawa Arjuna pulang ke rumah. Namun Ibu masih
berpengharapan penuh untuk kesembuhan Arjuna. Ibu merawatnya dengan sangat
baik. Begitu pula Najma, yang sangat menyayangi adiknya itu.
Tidak terasa,
sudah tiga hari mereka berada di rumah (setelah pulang dari rumah sakit). Pada
saat itu, para tetangga datang ke rumah Najma untuk menengok Arjuna. Kemudian
entah apa yang Ibu bicarakan dengan tante, tiba-tiba Ibu memberikan Arjuna
kepada tantenya. Najma tidak terima “Tidak mau, ini adikku. Jangan diberikan
kepada orang lain.” Najma berkata demikian dengan deraian air mata membasahi
pipinya. Kemudian orang-orang yang ada di tempat itu memberikan pengertian
bahwa Arjuna masih tetap menjadi adiknya, namun Arjuna akan memiliki dua Ibu
yaitu Ibu dan tante. Akhirnya Najma pun mengerti, mengusap kembali air matanya
dan mencium Arjuna dengan perasaan sangat dalam. “Najma tidak mau kehilangan Arjuna”
Katanya dalam hati.
Namun, semua
orang tidak menyangka bahwa ternyata itu adalah ciuman terakhir Najma untuk Arjuna.
Setelah itu, orang-orang yang datang menengok Arjuna satu per satu mulai pergi.
Mereka bertiga (Ibu, Najma dan Arjuna) pun tidur. Namun ketika Najma terbangun,
rumahnya ternyata dipenuhi dengan orang-orang lagi. Ia kebingungan. Ia melihat
Ibu dan orang-orang disekitarnya menangis.
Inilah
waktunya. Telah tiba saatnya. Tepat 2 bulan, 29 Agustus 2002 Arjuna
meninggalkan semuanya. Di hari itu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Tuhan
telah menunjukkan kuasanya.
Tuhan, inilah caraMu. Aku rela kehilangannya karena inilah jalan
terbaik untuknya. Aku tidak mau melihatnya terus menerus merasakan sakit, dan
inilah jalanMu. Jalan terbaik yang kau tunjukkan pada kami semua. Kami sadar,
tak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan kembali kepadaMu, semua akan
kembali ke pangkuanMu. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengangkat rasa sakit
yang diderita oleh adikku selama hidupnya. Aku malu, banyak sekali permintaanku
kepadaMu Tuhan.... Namun kabulkanlah permintaanku yang satu ini...
“Pertemukan kami di surgaMu.........”
Permataku
yang hilang
N!ce..
BalasHapus