Kamis, 11 Mei 2017

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang

Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak jarang juga, ada yang merasa terganggu dengan kehadiran seorang adik. Mereka beranggapan bahwa ketika memiliki seorang adik, maka kasih sayang dari orang tua akan terbagi. “Lalu, bagaimana sosok adik bagi Anda? Apakah seperti argumen yang pertama ataukah sebaliknya?” Tentu beragam jawaban akan menghiasi “brain” Anda saat ini.

Najma, itulah namanya. Nama indah penuh makna yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Sudah sangat lama Najma mengharapkan kehadiran seorang adik. Dia merasa kesepian karena tidak memiliki saudara. Meskipun ia masih berusia 5 tahun, tetapi pemikirannya berbeda dengan anak-anak seusianya. Ia selalu ingin berbagi kebahagiaan kepada orang-orang disekitarnya. Kemudian terlintas dalam benaknya untuk memiliki seorang adik karena ia juga ingin berbagi kebahagiaan bersama adiknya suatu saat nanti.
Waktu yang dinantikannya pun tiba. Tepat pada tanggal 29 Juni 2002, Najma memliki seorang adik laki-laki yang sangat tampan yang diberi nama Arjuna. Betapa bahagianya hati Najma hingga ia tidak mau melewati hari tanpa adiknya (yang masih bayi itu). Perputaran bumi diikuti dengan berlalunya hari, Ayah Najma pergi ke luar Jawa untuk bekerja. Najma, Ibu dan Arjuna pun tinggal di rumah tanpa kehadiran seorang Ayah. Jangkauan teknologi pada saat itu memang masih sulit. Jadi mereka tidak bisa selalu berkomunikasi. Kami mengetahui kabar Ayah hanya ketika ada tetangga kami yang pulang dari perantauan. Kami pun sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti ini karena memang Ayah memperoleh rizqi dan bisa menafkahi kami melalui jalan itu. Tempat kami berpijak memang berbeda, namun langit yang kami pandang tetaplah sama.
Hari demi hari berganti, hingga pada akhirnya Arjuna terkena penyakit yang sangat aneh. Perutnya terus membesar dan tiap malam ia selalu menangis. Padahal ketika itu Arjuna masih berusia 1 bulan. Ibu dan Najma sudah membawa Arjuna ke dokter namun tidak ada perubahan. Perutnya masih terus dalam keadaan demikian dan setiap malam pun ia masih tetap menangis “kesakitan”. Kemudian, Ibu membawa Arjuna ke rumah sakit. Namun rumah sakit itu pun menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak sanggup untuk mengobati Arjuna. Betapa gundahnya perasaan Ibu Najma ketika itu. Tanpa didampingi Ayah, ia terus berusaha untuk mengobatkan Arjuna. Ia mengharapkan yang terbaik untuk Arjuna, namun ia juga sempat hampir berputus asa. Namun melihat Najma yang sangat menyayangi Arjuna, Ibu mampu bangkit dan bersemangat untuk kesembuhan Arjuna.
Selanjutnya, Ibu membawa Arjuna ke rumah sakit yang ada di pusat kota. Alhamdulillah, mereka mau menerimanya dan mau berjuang untuk kesembuhan Arjuna. Ibu sedikit lega. Di rumah sakit itu, Arjuna adalah pasien dengan usia termuda diantara pasien yang lain. Berminggu-minggu kami berada disana. Najma pun dengan setia menemani Arjuna berjuang melawan rasa sakitnya. Setiap hari, sepulang sekolah Najma selalu datang ke rumah sakit untuk menengok adik yang sangat disayanginya itu. Setiap hari sekitar pukul 09.00 WIB dan 14.00 WIB, dokter selalu mengambil darah Arjuna untuk dicek di lab. Itu berjalan selama berminggu-minggu. Sudah banyak sekali bekas suntikan yang ada di tangan Arjuna. Namun ia tidak pernah menangis seolah-olah ia tidak merasakan sakit.

Baru kali ini aku melihat seorang anak kecil yang luar biasa. Tuhan menjaganya dengan sangat baik. Ia kuat karena doa tulus dari keluarganya. Kakak dengan seorang Ibu yang luar biasa. Berjuang keras dengan penuh pengharapan untuk kesembuhan adiknya. Kasih sayang yang terjalin diantara mereka sungguh kasih sayang yang tulus.

Berita tentang sakitnya Arjuna pun sampai ke telinga Ayah. Namun apa daya Ayah, ia tidak bisa pulang karena terpaut biaya. Ayah hanya mampu mengirimkan doa yang terbaik untuk Arjuna.
Lebih dari dua minggu Arjuna berada di rumah sakit itu, namun masih tidak ada perubahan pada dirinya. Hingga pada akhirnya, dokter berkata kepada Ibu “Mohon maaf Bu, kami sudah tidak sanggup lagi mengobati anak Ibu. Semoga Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk Ibu dan keluarga.” Mendengar perkataan itu, Ibu merasa sangat sedih. Beliau pun menjawab, “Terimakasih telah berjuang untuk anak saya.”
Dengan penuh perasaan sedih, Ibu membawa Arjuna pulang ke rumah. Namun Ibu masih berpengharapan penuh untuk kesembuhan Arjuna. Ibu merawatnya dengan sangat baik. Begitu pula Najma, yang sangat menyayangi adiknya itu.
Tidak terasa, sudah tiga hari mereka berada di rumah (setelah pulang dari rumah sakit). Pada saat itu, para tetangga datang ke rumah Najma untuk menengok Arjuna. Kemudian entah apa yang Ibu bicarakan dengan tante, tiba-tiba Ibu memberikan Arjuna kepada tantenya. Najma tidak terima “Tidak mau, ini adikku. Jangan diberikan kepada orang lain.” Najma berkata demikian dengan deraian air mata membasahi pipinya. Kemudian orang-orang yang ada di tempat itu memberikan pengertian bahwa Arjuna masih tetap menjadi adiknya, namun Arjuna akan memiliki dua Ibu yaitu Ibu dan tante. Akhirnya Najma pun mengerti, mengusap kembali air matanya dan mencium Arjuna dengan perasaan sangat dalam. “Najma tidak mau kehilangan Arjuna” Katanya dalam hati.
Namun, semua orang tidak menyangka bahwa ternyata itu adalah ciuman terakhir Najma untuk Arjuna. Setelah itu, orang-orang yang datang menengok Arjuna satu per satu mulai pergi. Mereka bertiga (Ibu, Najma dan Arjuna) pun tidur. Namun ketika Najma terbangun, rumahnya ternyata dipenuhi dengan orang-orang lagi. Ia kebingungan. Ia melihat Ibu dan orang-orang disekitarnya menangis.

Inilah waktunya. Telah tiba saatnya. Tepat 2 bulan, 29 Agustus 2002 Arjuna meninggalkan semuanya. Di hari itu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Tuhan telah menunjukkan kuasanya.

Tuhan, inilah caraMu. Aku rela kehilangannya karena inilah jalan terbaik untuknya. Aku tidak mau melihatnya terus menerus merasakan sakit, dan inilah jalanMu. Jalan terbaik yang kau tunjukkan pada kami semua. Kami sadar, tak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan kembali kepadaMu, semua akan kembali ke pangkuanMu. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengangkat rasa sakit yang diderita oleh adikku selama hidupnya. Aku malu, banyak sekali permintaanku kepadaMu Tuhan.... Namun kabulkanlah permintaanku yang satu ini...
“Pertemukan kami di surgaMu.........”

Permataku yang hilang

1 komentar:

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...