Sejarah
termasuk dalam ilmu kemanusiaan. Mempelajari Sejarah merupakan suatu hal yang
menarik. Dimana didalamnya selalu terdapat kesenjangan mengenai suatu peristiwa. Hal ini bisa dimaklumi karena
sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau dimana para tokoh
yang terlibat kebanyakan telah wafat sehingga sumber sejarah tersebut berkurang.
Dan penafsiran dari seseorang tentang sejarah pastinya berbeda antara satu
orang dengan orang yang lain. Karena faktanya, ada yang pro dan ada pula yang
kontra mengenai suatu peristiwa. Namun baik yang pro maupun kontra tersebut bisa
menulis sebuah buku dengan tujuan untuk mempengaruhi pembacanya. Hakikat sejarah
adalah menafsirkan, memahami dan mengerti mengenai penjelasan sejarah baik
secara sinkronis maupun diakronis.
Sejarah
Peradaban Islam merupakan sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari. Jika
kita mengingat betapa jayanya Islam di masa lampau, maka kita akan menyadari
betapa agungnya agama Islam dan kontribusinya dalam pengaruh dunia. Sejarah
peradaban Islam terdiri dari tiga kata, yakni sejarah, peradaban, dan Islam.
Sejarah (tarikh, sirah, history) yakni realitas masa lalu. Jadi
peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu
yang telah dibuktikan melalui penelitian atau penemuan-penemuan. Sedangkan
peradaban (tsaqafah, hadlarah, tamaddun, civilization) merupakan
kehidupan yang lebih agresif. Yakni semua fenomena kehidupan pada periode
tertentu termasuk didalamnya adalah perang, revolusi, karya seni terbaik,
kejahatan yang paling rendah, perubahan sistem pemerintahan, perubahan makanan
harian masyarakat urban, dan lain-lain. Sedangkan Islam (salima-aslama-yuslimu-islaman)
yaitu agama dari Allah. Sebenarnya, Islam sudah ada sejak zaman nabi Adam a.s.
Namun pada masa tersebut masih berbentuk risalah yakni tentang ajaran dan
perilaku. Selanjutnya berbentuk nubuwwah yakni tentang kenabian dan aqidah. Dan
setelah itu, Islam secara nyata atau dengan kata lain telah diresmikan menjadi
agama. Sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam Q.S Al-Maidah ayat 3;
اليوم اكملت لكم
دينكم واتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الاسلم دينا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”
Agama masyarakat
Arab sebelum Islam adalah paganisme (menyembah berhala), yahudi (monotheisme),
nasrani, dan jahiliyah yang masyarakatnya tidak memiliki moral. Padahal agama
yang dibawa oleh Nabi Ibrahim adalah ajaran tauhid yaitu ajaran untuk
meng-Esakan Allah. Namun ajaran tersebut telah pudar menjadi penyembahan
berhala. Karakter orang Arab yaitu berani, keras dan bebas.
Strategi dakwah
Rasulullah pada periode Makkah yaitu secara sembunyi-sembunyi dan
terang-terangan. Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 sampai
4 tahun yakni menyampaikan ajaran Islam dari rumah ke rumah. Lalu pada tahun
ke-4 Rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Hal ini dilakukan dengan
mengundang kerabat Rasul dan mengumpulkan penduduk Makkah di Ka’bah dan di
bukit Sofa untuk mendengarkan dakwah Rasulullah. Sistem sosial di Makkah
dibentuk melalui memahami perbedaan, penyempurnaan agama Islam, dan penguatan
identitas sosial.
Rasulullah
berhijrah ke Madinah. Hal ini disebabkan karena masyarakat Makkah lebih identik
dengan kelompok kebangsawanan sedangkan Rasulullah adalah dari golongan kaum
biasa (Bani Hasyim) sehingga tidak mendapatkan porsi dalam menyiarkan agama
Islam. Selain itu, juga adanya teologi baru yakni tentangan dari paman-pamannya
sendiri yakni Abu Lahab dan Abu Jahal, sehingga diperlukan tempat berjuang yang
baru untuk menyerukan agama Islam agar Islam lebih cepat untuk menyebar dan
berkembang.
Rasulullah
berdakwah selama kurang lebih 23 tahun yaitu 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di
Madinah. Setelah wafatnya Rasulullah, maka kepemimpinan diganti dengan masa
pemerintahan khulafaur rasyidin. Masa kepemimpinan khulafaur rasyidin terbagi
dalam 4 tahap yaitu masa pemerintahan Abu Bakar (632-634 M), Umar bin Khattab
(634-644 M), Utsman bin Affan (644-656 M), dan Ali bin Abi Thalib (656-661 M).
Ke-empat khalifah tersebut memiliki tipe kepemimpinan yang berbeda-beda. Pada
masa pemerintahan Abu Bakar, dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan dalam
negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang
tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa
perjanjian-perjanjian yang telah dibuat gugur bersama wafatnya Rasulullah saw.
Abu Bakar hanya memimpin selama 2 tahun dan kemudian dilanjutkan oleh khalifah
Umar. Pada masa pemerintahannya, khalifah Umar melakukan perluasan wilayah.
Beliau juga berhasil mendirikan baitul mal, menempa mata uang, dan menciptakan
tahun hijriyah. Masa pemerintahannya berakhir dengan kematian. Beliau dibunuh
oleh seorang budak. Kemudian kepemimpinan digantikan oleh khalifah Utsman bin
Affan. Pada masa pemerintahannya, Utsman juga melakukan perluasan wilayah.
Namun beliau juga berakhir dengan dibunuh oleh orang-orang yang kecewa dan
merasa tidak puas dengan masa kepemimpinannya. Kekhalifahan kemudian
dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib. Pada masanya, terjadi berbagai
pemberontakan dan pada akhir masa pemerintahannya, umat Islam terpecah menjadi
3 golongan, yakni Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Ali), dan al-Khawarij
(orang-orang yang keluar dari barisan Ali).
Setelah masa
khulafaur rasyidin berakhir,kemudian dilanjutkan masa dinasti umayyah.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ekspansi yang terhenti pada
masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Selain itu,
dinasti umayyah juga terkenal dengan jasanya dalam pembangunan di berbagai
bidang. Namun seiring pergantian kepemimpinan, dinasti umayyah semakin lemah
karena proses pemilihan pemimpin dilakukan berdasarkan keturunan. Pemerintahan
dinasti Umayyah bersifat militeris, sekularistik (agama dan politik benar-benar
dipisah), dan monarki absolut.
Pada periode
pertamanya, dinasti Abbasiyah mengalami puncak kejayaan. Pada masa Bani Abbas
ini, lahir para ilmuwan besar sehingga bisa bersatu dengan orang-orang Yunani
dan Romawi. Pemerintahan dinasti Abbasiyah bersifat plularistik, saintifik, dan
religius yakni bisa menyatukan antara agama, politik dan pemerintahan.
Ketika Islam
mencapai masa keemasan, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat
penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen
banyak belajar di perguruan tinggi Islam disana. Islam menjadi “guru” bagi
orang Eropa.
Setelah
khalifah Abbasiyah mengalami keruntuhan akibat serangan dari tentara Mongol,
kekuatan politik Islam menurun secara drastis. Beberapa peninggalan budaya dan
peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan tersebut. Kemudian Islam
mulai bangkit kembali setelah muncul tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Turki
Usmani, Safawi di Persia, dan Mughal di India. Pada masa tiga kerajaan besar
ini, Islam mampu menguasai hampir sebagian dunia.
Islam terus
berkembang dan akhirnya memasuki wilayah Asia Tenggara dan khususnya Indonesia.
Islam masuk ke Asia Tenggara melalui jalur pernikahan, tasawuf, pendidikan,
politik dan kesenian. Penyebaran agama Islam selalu dilakukan dengan cara damai
sehingga orang-orang yang masuk Islam adalah atas dasar kemauannya sendiri
tanpa paksaan dari pihak manapun. Seiring dengan berkembangnya Islam, muncul
kerajaan-kerajaan Islam sebagai wujud dari kekuatan Islam itu sendiri. Begitu
pula dengan di Indonesia. Berkembang pesatnya Islam tidak lepas dari pengaruh
kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri pada masa itu. Namun sayangnya, sekarang
ini tidak ditemukan bukti peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut.
Islam di
Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat. Sembari berdagang, mereka
juga mengajarkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Islam. Perkembangan Islam
di Indonesia khususnya Jawa, tidak lepas dari peran Walisongo dalam menyebarkan
ajaran Islam. Walisongo adalah real, bukan legenda belaka. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya babad dan serat yang sudah ada pada abad ke 15.
Walisongo merupakan embrio tentang penyebutan masyarakat terhadap wali-wali.
Walisongo memiliki keterkaitan dengan Cina, Arab, dan Turki Usmani.
Pada abad ke-15
(1405), seorang muslim dari Cina yang bermadzhab Hanafi yaitu Laksamana Cheng
Ho melakukan 7 ekspedisi. Pada masa Turki Usmani, Sultan Muhammad I mengirim
ulama ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Ulama’ tersebut diantaranya
adalah Maulana Jumadil Kubro, Maulana Ishaq, dan Maulana Malik Ibrahim. Keselarasan
pertemuan pengiriman ulama dari Turki dengan pelayaran Cheng Ho dipastikan
bertemu di tempat yang disinggahi, yaitu Jawa. Maulana Malik Ibrahim yang biasa
dipanggil dengan sunan Gresik yang kemudian melahirkan keturunan keturunan yang
juga ulama yang ikut andil dan aktif dalam menyebarkan agama Islam di tanah
Jawa. Nama-nama walisongo adalah sebagai berikut:
1.
Maulana
Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
2.
Raden
Rahmat (Sunan Ampel)
3.
Raden
Paku (Sunan Giri)
4.
Raden
Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
5.
Raden
Qosim (Sunan Drajad)
6.
Raden
Jakfar Shodiq (Sunan Kudus)
7.
Raden
Said (Sunan Kalijaga)
8.
Raden
Umar Said (Sunan Muria)
9.
Syarif
Hidayatullah (Sunan Gunungjati)
Kontribusi
Walisongo dalam menyebarkan agama Islam sangat besar. Budaya-budaya yang
diwariskan oleh walisongo merupakan akulturasi dengan kebudayaan dari Cina,
Arab, dll. Misalnya bedug, baju taqwa, dan dari segi bahasa misalnya kata
“kodok” diambil dari bahasa Cina “Kauw Tok”, dan kata “ketua” diambil dari
bahasa Cina “Kap Toa”. Selain itu juga ada tulisan Arab kaligrafi yang
merupakan perpaduan dari Arab. Selain itu, yang populer dikalangan masyarakat
Jawa adalah wayang yang merupakan ciptaan dari Sunan Kalijaga. Wayang merupakan
bentuk kebudayaan Hindu-Budha yang dibentuk sedemikian rupa dan kemudian
dijadikan sebagai sarana berdakwah. Sampai saat ini cerita asli pewayangan
masih merupakan kisah-kisah dari kitab-kitab suci Hindu. Walisongo mengambil
kisah-kisah tersebut dengan memasukkan nilai-nilai Islami.
Islam juga
sangat berkontribusi pada kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh Islam sangat
berperan dalam upaya memperoleh kemerdekaan Indonesia. Terbukti dengan
banyaknya tokoh-tokoh penting yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia adalah
berasal dari agama Islam. Mereka berjuang atas dasar jihad fi sabilillah.
Karena agama Islam sangat membenci penjajahan dan perbudakan. Nasionalisme dan
Islamisme selalu hadir berdampingan dalam sejarah bangsa Indonesia, bahkan
selama penjajahan. Agama menjadi aspek yang menegaskan perjuangan nasional.
Dalam sejarah Indonesia, nasionalisme dan Islamisme menjadi kekuatan besar yang
terpadu dalam merebut kemerdekaan.
Islam yang ada
di Indonesia adalah Islam yang menarik. Karena ajaran-ajaran yang disampaikan
oleh para wali bukan melalui syari’at murni yang bisa dibilang “njlimet”.
Tetapi para wali memiliki teknik khusus dalam menyampaikan ajaran Islam.
Misalnya dengan digelarnya tontonan wayang yang didalam kisahnya terkandung
dakwah oleh para wali tersebut. Selain itu, juga ada yang disebut dengan
“sekaten”. Aslinya adalah “syahadatain”. Karena lidah orang Jawa yang kaku,
maka disebutnya “sekaten”. Dalam hal ini, masyarakat diajak bersama-sama
mengucap dua kalimat syahadat dalam sebuah tembang yang disampaikan oleh para
wali. Tanpa paksaan dan tanpa iming-iming apapun, mereka telah masuk Islam.
Tradisi-tradisi yang masih ada sampai sekarang, misal maulid Nabi, tahlilan,
ziarah kubur, bukanlah bid’ah. Karena tujuan dari kegiatan tersebut tidak lain
adalah untuk berdo’a kepada Allah Swt. Namun menurut data yang muncul baru-baru
ini, umat Islam di Indonesia semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena
banyak yang keluar dari agama Islam atau dengan kata lain adalah murtad.
Padahal menurut saya, orang yang keluar dari agama Islam, meninggalkan agama
Islam dan beralih ke agama yang lain adalah karena kebodohannya. Biasanya
orang-orang tersebut hanya tertarik dengan kekayaan, harta dan martabat yang
dijanjikan. Sedangkan orang yang awalnya non muslim, kemudian masuk Islam,
adalah karena kecerdasannya dan dia telah mendapat hidayah dari Allah swt. Biasanya
dia adalah orang-orang yang pandai dan cerdas.
