Minggu, 25 September 2016

Sejarah Peradaban Islam

Sejarah termasuk dalam ilmu kemanusiaan. Mempelajari Sejarah merupakan suatu hal yang menarik. Dimana didalamnya selalu terdapat kesenjangan mengenai suatu  peristiwa. Hal ini bisa dimaklumi karena sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau dimana para tokoh yang terlibat kebanyakan telah wafat sehingga sumber sejarah tersebut berkurang. Dan penafsiran dari seseorang tentang sejarah pastinya berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Karena faktanya, ada yang pro dan ada pula yang kontra mengenai suatu peristiwa. Namun baik yang pro maupun kontra tersebut bisa menulis sebuah buku dengan tujuan untuk mempengaruhi pembacanya. Hakikat sejarah adalah menafsirkan, memahami dan mengerti mengenai penjelasan sejarah baik secara sinkronis maupun diakronis.
Sejarah Peradaban Islam merupakan sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari. Jika kita mengingat betapa jayanya Islam di masa lampau, maka kita akan menyadari betapa agungnya agama Islam dan kontribusinya dalam pengaruh dunia. Sejarah peradaban Islam terdiri dari tiga kata, yakni sejarah, peradaban, dan Islam. Sejarah (tarikh, sirah, history) yakni realitas masa lalu. Jadi peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu yang telah dibuktikan melalui penelitian atau penemuan-penemuan. Sedangkan peradaban (tsaqafah, hadlarah, tamaddun, civilization) merupakan kehidupan yang lebih agresif. Yakni semua fenomena kehidupan pada periode tertentu termasuk didalamnya adalah perang, revolusi, karya seni terbaik, kejahatan yang paling rendah, perubahan sistem pemerintahan, perubahan makanan harian masyarakat urban, dan lain-lain. Sedangkan Islam (salima-aslama-yuslimu-islaman) yaitu agama dari Allah. Sebenarnya, Islam sudah ada sejak zaman nabi Adam a.s. Namun pada masa tersebut masih berbentuk risalah yakni tentang ajaran dan perilaku. Selanjutnya berbentuk nubuwwah yakni tentang kenabian dan aqidah. Dan setelah itu, Islam secara nyata atau dengan kata lain telah diresmikan menjadi agama. Sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam Q.S Al-Maidah ayat 3;
اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الاسلم دينا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”
Agama masyarakat Arab sebelum Islam adalah paganisme (menyembah berhala), yahudi (monotheisme), nasrani, dan jahiliyah yang masyarakatnya tidak memiliki moral. Padahal agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim adalah ajaran tauhid yaitu ajaran untuk meng-Esakan Allah. Namun ajaran tersebut telah pudar menjadi penyembahan berhala. Karakter orang Arab yaitu berani, keras dan bebas.
Strategi dakwah Rasulullah pada periode Makkah yaitu secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 sampai 4 tahun yakni menyampaikan ajaran Islam dari rumah ke rumah. Lalu pada tahun ke-4 Rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Hal ini dilakukan dengan mengundang kerabat Rasul dan mengumpulkan penduduk Makkah di Ka’bah dan di bukit Sofa untuk mendengarkan dakwah Rasulullah. Sistem sosial di Makkah dibentuk melalui memahami perbedaan, penyempurnaan agama Islam, dan penguatan identitas sosial.
Rasulullah berhijrah ke Madinah. Hal ini disebabkan karena masyarakat Makkah lebih identik dengan kelompok kebangsawanan sedangkan Rasulullah adalah dari golongan kaum biasa (Bani Hasyim) sehingga tidak mendapatkan porsi dalam menyiarkan agama Islam. Selain itu, juga adanya teologi baru yakni tentangan dari paman-pamannya sendiri yakni Abu Lahab dan Abu Jahal, sehingga diperlukan tempat berjuang yang baru untuk menyerukan agama Islam agar Islam lebih cepat untuk menyebar dan berkembang.
Rasulullah berdakwah selama kurang lebih 23 tahun yaitu 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Setelah wafatnya Rasulullah, maka kepemimpinan diganti dengan masa pemerintahan khulafaur rasyidin. Masa kepemimpinan khulafaur rasyidin terbagi dalam 4 tahap yaitu masa pemerintahan Abu Bakar (632-634 M), Umar bin Khattab (634-644 M), Utsman bin Affan (644-656 M), dan Ali bin Abi Thalib (656-661 M). Ke-empat khalifah tersebut memiliki tipe kepemimpinan yang berbeda-beda. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian-perjanjian yang telah dibuat gugur bersama wafatnya Rasulullah saw. Abu Bakar hanya memimpin selama 2 tahun dan kemudian dilanjutkan oleh khalifah Umar. Pada masa pemerintahannya, khalifah Umar melakukan perluasan wilayah. Beliau juga berhasil mendirikan baitul mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijriyah. Masa pemerintahannya berakhir dengan kematian. Beliau dibunuh oleh seorang budak. Kemudian kepemimpinan digantikan oleh khalifah Utsman bin Affan. Pada masa pemerintahannya, Utsman juga melakukan perluasan wilayah. Namun beliau juga berakhir dengan dibunuh oleh orang-orang yang kecewa dan merasa tidak puas dengan masa kepemimpinannya. Kekhalifahan kemudian dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib. Pada masanya, terjadi berbagai pemberontakan dan pada akhir masa pemerintahannya, umat Islam terpecah menjadi 3 golongan, yakni Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Ali), dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).
Setelah masa khulafaur rasyidin berakhir,kemudian dilanjutkan masa dinasti umayyah. Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Selain itu, dinasti umayyah juga terkenal dengan jasanya dalam pembangunan di berbagai bidang. Namun seiring pergantian kepemimpinan, dinasti umayyah semakin lemah karena proses pemilihan pemimpin dilakukan berdasarkan keturunan. Pemerintahan dinasti Umayyah bersifat militeris, sekularistik (agama dan politik benar-benar dipisah), dan monarki absolut.
Pada periode pertamanya, dinasti Abbasiyah mengalami puncak kejayaan. Pada masa Bani Abbas ini, lahir para ilmuwan besar sehingga bisa bersatu dengan orang-orang Yunani dan Romawi. Pemerintahan dinasti Abbasiyah bersifat plularistik, saintifik, dan religius yakni bisa menyatukan antara agama, politik dan pemerintahan.
Ketika Islam mencapai masa keemasan, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan tinggi Islam disana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa.
Setelah khalifah Abbasiyah mengalami keruntuhan akibat serangan dari tentara Mongol, kekuatan politik Islam menurun secara drastis. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan tersebut. Kemudian Islam mulai bangkit kembali setelah muncul tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Turki Usmani, Safawi di Persia, dan Mughal di India. Pada masa tiga kerajaan besar ini, Islam mampu menguasai hampir sebagian dunia.
Islam terus berkembang dan akhirnya memasuki wilayah Asia Tenggara dan khususnya Indonesia. Islam masuk ke Asia Tenggara melalui jalur pernikahan, tasawuf, pendidikan, politik dan kesenian. Penyebaran agama Islam selalu dilakukan dengan cara damai sehingga orang-orang yang masuk Islam adalah atas dasar kemauannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun. Seiring dengan berkembangnya Islam, muncul kerajaan-kerajaan Islam sebagai wujud dari kekuatan Islam itu sendiri. Begitu pula dengan di Indonesia. Berkembang pesatnya Islam tidak lepas dari pengaruh kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri pada masa itu. Namun sayangnya, sekarang ini tidak ditemukan bukti peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut.
Islam di Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat. Sembari berdagang, mereka juga mengajarkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Islam. Perkembangan Islam di Indonesia khususnya Jawa, tidak lepas dari peran Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam. Walisongo adalah real, bukan legenda belaka. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya babad dan serat yang sudah ada pada abad ke 15. Walisongo merupakan embrio tentang penyebutan masyarakat terhadap wali-wali. Walisongo memiliki keterkaitan dengan Cina, Arab, dan Turki Usmani.
Pada abad ke-15 (1405), seorang muslim dari Cina yang bermadzhab Hanafi yaitu Laksamana Cheng Ho melakukan 7 ekspedisi. Pada masa Turki Usmani, Sultan Muhammad I mengirim ulama ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Ulama’ tersebut diantaranya adalah Maulana Jumadil Kubro, Maulana Ishaq, dan Maulana Malik Ibrahim. Keselarasan pertemuan pengiriman ulama dari Turki dengan pelayaran Cheng Ho dipastikan bertemu di tempat yang disinggahi, yaitu Jawa. Maulana Malik Ibrahim yang biasa dipanggil dengan sunan Gresik yang kemudian melahirkan keturunan keturunan yang juga ulama yang ikut andil dan aktif dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama-nama walisongo adalah sebagai berikut:
1.      Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
2.      Raden Rahmat (Sunan Ampel)
3.      Raden Paku (Sunan Giri)
4.      Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
5.      Raden Qosim (Sunan Drajad)
6.      Raden Jakfar Shodiq (Sunan Kudus)
7.      Raden Said (Sunan Kalijaga)
8.      Raden Umar Said (Sunan Muria)
9.      Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati)
Kontribusi Walisongo dalam menyebarkan agama Islam sangat besar. Budaya-budaya yang diwariskan oleh walisongo merupakan akulturasi dengan kebudayaan dari Cina, Arab, dll. Misalnya bedug, baju taqwa, dan dari segi bahasa misalnya kata “kodok” diambil dari bahasa Cina “Kauw Tok”, dan kata “ketua” diambil dari bahasa Cina “Kap Toa”. Selain itu juga ada tulisan Arab kaligrafi yang merupakan perpaduan dari Arab. Selain itu, yang populer dikalangan masyarakat Jawa adalah wayang yang merupakan ciptaan dari Sunan Kalijaga. Wayang merupakan bentuk kebudayaan Hindu-Budha yang dibentuk sedemikian rupa dan kemudian dijadikan sebagai sarana berdakwah. Sampai saat ini cerita asli pewayangan masih merupakan kisah-kisah dari kitab-kitab suci Hindu. Walisongo mengambil kisah-kisah tersebut dengan memasukkan nilai-nilai Islami.
Islam juga sangat berkontribusi pada kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh Islam sangat berperan dalam upaya memperoleh kemerdekaan Indonesia. Terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh penting yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia adalah berasal dari agama Islam. Mereka berjuang atas dasar jihad fi sabilillah. Karena agama Islam sangat membenci penjajahan dan perbudakan. Nasionalisme dan Islamisme selalu hadir berdampingan dalam sejarah bangsa Indonesia, bahkan selama penjajahan. Agama menjadi aspek yang menegaskan perjuangan nasional. Dalam sejarah Indonesia, nasionalisme dan Islamisme menjadi kekuatan besar yang terpadu dalam merebut kemerdekaan.

Islam yang ada di Indonesia adalah Islam yang menarik. Karena ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para wali bukan melalui syari’at murni yang bisa dibilang “njlimet”. Tetapi para wali memiliki teknik khusus dalam menyampaikan ajaran Islam. Misalnya dengan digelarnya tontonan wayang yang didalam kisahnya terkandung dakwah oleh para wali tersebut. Selain itu, juga ada yang disebut dengan “sekaten”. Aslinya adalah “syahadatain”. Karena lidah orang Jawa yang kaku, maka disebutnya “sekaten”. Dalam hal ini, masyarakat diajak bersama-sama mengucap dua kalimat syahadat dalam sebuah tembang yang disampaikan oleh para wali. Tanpa paksaan dan tanpa iming-iming apapun, mereka telah masuk Islam. Tradisi-tradisi yang masih ada sampai sekarang, misal maulid Nabi, tahlilan, ziarah kubur, bukanlah bid’ah. Karena tujuan dari kegiatan tersebut tidak lain adalah untuk berdo’a kepada Allah Swt. Namun menurut data yang muncul baru-baru ini, umat Islam di Indonesia semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena banyak yang keluar dari agama Islam atau dengan kata lain adalah murtad. Padahal menurut saya, orang yang keluar dari agama Islam, meninggalkan agama Islam dan beralih ke agama yang lain adalah karena kebodohannya. Biasanya orang-orang tersebut hanya tertarik dengan kekayaan, harta dan martabat yang dijanjikan. Sedangkan orang yang awalnya non muslim, kemudian masuk Islam, adalah karena kecerdasannya dan dia telah mendapat hidayah dari Allah swt. Biasanya dia adalah orang-orang yang pandai dan cerdas.

Kamis, 22 September 2016

Kekuatan Doa Meruntuhkan Dinding Kemustahilan

Doa adalah kekuatan utama bagi seorang muslim setelah melakukan usaha. Suatu usaha tanpa disertai dengan doa sama artinya dengan sombong. Sedangkan berdoa tanpa melakukan usaha sama artinya dengan bohong. Pada zaman yang modern ini, anak muda seringkali meremehkan kekuatan doa. Apalagi doa dari orang tua, terutama doa seorang ibu. Mereka lebih suka mengikuti keinginan dan hawa nafsu daripada mendengarkan nasehat yang diberikan oleh orang tua. Pada kesempatan kali ini, penulis akan memaparkan sepenggal kisah mengenai dahsyatnya doa dan ridho dari seorang ibu.
Masa itu adalah masa-masa pendaftaran masuk perguruan tinggi. Saya telah memiliki passion dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bisa memenuhi keinginan saya yaitu mendaftar pada prodi matematika. Disisi lain, orang tua menyarankan agar saya memilih prodi sesuai dengan yang disarankan mereka yakni PAI. Berat rasanya jika harus melepas pilihan saya dan berganti memilih prodi sesuai dengan saran orang tua. Hati saya selalu gelisah memikirkan hal ini hingga pada akhirnya orang tua mengetahui kegelisahan yang tengah saya rasakan. Mereka pun menenangkan saya dan membiarkan saya untuk memilih prodi sesuai dengan keinginan saya meskipun saya tahu, itu mereka lakukan semata-mata untuk membuat saya merasa senang dan bersemangat kembali.
Hari demi hari berlalu, akhirnya tibalah pengumuman ujian nasional dan saya sangat bersyukur karena berhasil meraih gelar wisudawan terbaik. Hal ini membuat orang tua saya merasa bangga atas prestasi yang telah saya raih selama SMA. Betapa senangnya hati ini ketika melihat kedua orang tua kita tersenyum bangga atas apa yang telah kita raih. Rasa syukur selalu terucap dalam diam, namun terkadang muncul perasaan gelisah dengan hasil SNMPTN. Tetapi, orang tua saya adalah orang yang luar biasa. Mereka mampu menenangkan saya ketika dilanda kegelisahan. Hingga pada akhirnya tibalah masa pengumuman hasil SNMPTN. Dengan perasaan cemas saya pergi ke warnet, dengan perasaan takut saya mulai membuka web. Lalu apa hasilnya? Sungguh benar, apa yang saya takutkan menjadi kenyataan. Dalam web tersebut, saya dinyatakan tidak lolos dalam SNMPTN. Betapa sedihnya hati saya ketika itu, namun saya bukanlah orang yang mudah putus asa. Meskipun masih dalam keadaan terpukul, saya memiliki semangat yang membara untuk mengikuti SBMPTN. Setiap hari saya selalu berlatih mengerjakan soal-soal SBMPTN, dan kembali lagi orang tua menyarankan untuk memilih prodi PAI. Namun saya masih bersikukuh dengan prodi matematika yang saya sukai. Apalah daya orang tua, mereka pun mengalah dan membiarkan saya untuk memilih prodi matematika.
Tanggal penetapan ujian SBMPTN telah ditetapkan dan saya pun mengikuti ujian dengan harapan bisa lolos di perguruan tinggi impian saya. Namun kenyataannya, lagi-lagi saya menelan kegagalan. Saya hampir putus asa, tetapi berkat dorongan dari orang-orang terdekat, saya pun mencoba peruntungan kembali dengan mengikuti tes jalur mandiri. Kali ini saya mengambil prodi lain dan mengikhlaskan matematika. Tetapi prodi yang saya pilih kali ini juga bukan prodi yang disarankan oleh kedua orang tua saya. Saya masih ingat, ketika itu saya memilih prodi PGMI. Entah atas dasar apa saya memilih prodi tersebut. Padahal ketika masih di rumah, saya berniat untuk mengambil prodi PAI sesuai dengan saran orang tua. Ujian pun berlangsung, dan sekali lagi saya mengalami kegagalan. Meskipun ketika itu saya sudah sangat yakin dengan jawaban-jawaban saya dan saya rasa soal-soalnya tidak terlalu sulit. Namun Tuhan berkehendak lain. Inilah jalan yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya terpaksa berhenti satu tahun dan dalam kurun waktu satu tahun itu saya mendapat berbagai pelajaran yang luar biasa. Andaikan saya tidak mengalami kejadian seperti ini, mungkin saya tidak akan menjadi manusia yang selalu tahan dalam segala cobaan. Waktu satu tahun itu saya pergunakan untuk bekerja dan tidak lupa saya juga selalu belajar.
Satu tahun berlalu, dan akhirnya tibalah masa pendaftaran mahasiswa baru perguruan tinggi. Kali ini saya benar-benar mendengarkan nasehat orang tua. Saya mengambil prodi PAI sesuai dengan saran mereka. Ternyata benar, ridho Allah tergantung pada ridho orang tua. Saya berhasil lolos dari ujian tes tertulis dan dinyatakan masuk menjadi mahasiswa baru sebuah universitas Islam negeri di Semarang. Rasa syukur senantiasa terucap baik dalam terang maupun gelap, dalam keadaan ramai maupun sepi. Sungguh doa dan ridho orang tua adalah kekuatan terbesar dalam meraih mimpi. Alasan mereka sederhana, yakni agar saya menjadi wanita yang selalu taat kepada Tuhan dan tidak hanya mencari penghidupan yang layak di dunia, melainkan mencari bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Dari kisah diatas, dapat disimpulkan bahwa kita tidak harus selalu mengikuti apa yang kita inginkan. Ada saatnya kita perlu mendengarkan nasehat yang diberikan oleh orang lain, terutama orang tua. Karena doa orang tua apalagi seorang Ibu, pasti diijabah oleh Yang Maha Kuasa. Tuhan memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tahu apa yang kita butuhkan. Jangan pernah menghakimi Tuhan ketika apa yang kita inginkan tidak dikabulkan. Tetapi cobalah untuk mengintrospeksi diri sendiri.

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...