Rabu, 26 Oktober 2016

Cintai Alqur'an Sejak Dini

Membaca merupakan kewajiban bagi setiap manusia, terutama pelajar. Karena dengan membaca, seseorang akan mendapatkan pengetahuan dan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia. Disisi lain, membaca Alquran bukan lagi menjadi sebuah kewajiban bagi setiap umat Islam melainkan sebagai suatu kebutuhan. Pada dasarnya, membaca Alquran memiliki kenikmatan tersendiri bagi yang bisa menghayati makna yang terkandung didalamnya. Membaca Alquran perlu ditanamkan sejak dini agar ketika seseorang beranjak dewasa, ia tidak akan melalaikan Alquran tetapi mampu menjadikan Alquran sebagai teman dalam kesehariannya.
Pentingnya membaca Alquran dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw yang artinya “bacalah Alquran karena sesungguhnya dia datang memberi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.” (H.R. Muslim). Oleh karena itu, belajar membaca Alquran atau yang sering kita sebut dengan belajar mengaji menjadi sangat penting untuk dilaksanakan. Karena dalam membaca ayat-ayat Alquran, seseorang perlu memperhatikan tajwid dan makhrajnya.
Alquran merupakan Kalamullah, sehingga dengan membacanya kita akan memperoleh pahala. Apalagi jika kita mampu menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya. Rasululullah saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Alquran maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat.” Ironinya, di zaman yang serba modern ini umat Islam mulai melupakan Alquran terutama dikalangan pemuda. Mereka telah dihegemoni oleh peradaban Barat dengan munculnya teknologi-teknologi yang semakin canggih, misalnya handphone. Seseorang lebih suka menghabiskan waktu dengan telepon selulernya dibandingkan dengan membaca Alquran.
Membiasakan diri untuk membaca Alquran harus dimulai sejak dini. Ketika seseorang belajar mengaji di usia dini, tentunya akan lebih mudah untuk menerima dan mengingat apa yang disampaikan oleh gurunya. Tetapi ketika seseorang belajar ketika sudah dewasa, tentu akan sulit untuk menerima dan mengingatnya. Karena belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu sedangkan belajar sesudah dewasa bagaikan mengukir di atas air.
Alquran memiliki berbagai manfaat bagi para pembacanya. Oleh karena itu, membaca dan mencintai Alquran merupakan suatu kebutuhan bagi umat Islam. Manfaat tersebut diantaranya adalah dengan membaca Alquran kita akan memperoleh sepuluh kebaikan dari setiap ayatnya. Selain itu, dengan membaca Alquran hati kita akan merasa lebih tentram karena Alquran mampu menyejukkan hati bagi para pembacanya. Ayat-ayat yang terkandung dalam Alquran juga mampu memberikan motivasi dan semangat ketika kita memiliki masalah yakni dengan memahami makna yang terkandung didalamnya. Bagi seseorang yang sudah bisa mencintai Alquran, ia akan merasa tidak nyaman ketika dalam satu hari ia belum menyempatkan waktunya untuk membaca Alquran. Karena melalui Alquran, ia bisa berkomunikasi langsung dengan Allah swt. Selain itu, ia juga mampu memiliki jiwa yang sejuk dan penuh dengan kesabaran, serta memiliki hati yang jernih, jiwa dan pikiran yang lapang dan wajah yang bercahaya. Biasanya orang-orang seperti ini memiliki prinsip, dalam sehari mereka bisa membaca Alquran sebanyak satu juz. Namun yang perlu diingat adalah ketika kita melakukan suatu hal termasuk membaca Alquran, haruslah dilandasi dengan rasa ikhlas sehingga kebaikan yang terkandung didalamnya akan datang dengan sendirinya kepada diri kita.

Berdasarkan pengamatan penulis, dewasa ini membaca Alquran bukan lagi menjadi rutinitas yang diminati oleh mahasiswa. Mereka lebih suka bermain dan menghabiskan waktu dengan layar teleponnya. Padahal mahasiswa seharusnya mampu mencintai Alquran, terutama mahasiswa UIN Walisongo Semarang mengingat kebaikan-kebaikan dan manfaat yang terkandung didalamnya serta UIN Walisongo merupakan kampus Islam yang tentunya didalamnya banyak ditanamkan nilai-nilai Islami. Oleh karena itu, ketika memiliki waktu luang sempatkanlah diri untuk membaca Alquran meskipun hanya satu ayat. Selain itu, buatlah waktu khusus untuk membaca Alquran setiap harinya sehingga hari-hari kita tidak pernah kosong dari membaca Alquran dan mengingat Sang Maha Pencipta. Bukankah lebih baik jika kita menjadikan rutinitas membaca Alquran sebagai hobi daripada hanya menghabiskan waktu dengan hal-hal tidak berguna yang justru bisa menambah tabungan dosa pada diri kita. Mulai dari sekarang, marilah belajar mencintai Alquran dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya agar kita menjadi insan yang lebih baik dan mendapatkan tempat terbaik di akhirat kelak. 

Minggu, 23 Oktober 2016

Pidato dengan tema Walimatut Tasmiyah


السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
الحمدلله الملك المبين الذي حيانا بالايمان واليقين اللهم صلي على سيدنا محمد خاتم الانبياء والمرسلين وعلى اله الطيبين واصحابه الاخيار اجمعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين  امابعد
Ingkang tansah kula hurmati, ustadz Mursid selaku dosen pembimbing mata kuliah retorika dakwah
Sarto ingkang tansah kula tresnani rencang-rencang saperjuangan PAI-1B ingkang insyaAllah dipunrahmati dening Allah swt.
Sepindah, sumangga panjenengan sedaya kula dhereaken tansah ngunjukaken puja lan puji syukur wonten ing ngarsanipun Allah Swt., ingkang sampun maringi pinten-pinten rahmat, pinten-pinten nikmat, hidayah saha inayahipun saengga kitha sedaya saged makempal manunggal wonten ing majlis punika kanthi sehat tanpo alangan setunggal menapa. بقولنا الحمد لله رب العالمين
Shalawat saha salam mugio tansah kunjuk katur dateng junjungan kitha Nabiyullah Nabi Agung Muhammad صلى الله عليه وسلم ingkang sampun nggulawentah kitha sedaya wiwit jaman jahiliyah tumuju maring jaman islamiyah. Mugio kitha sedaya pikanthuk syafa’atipun wonten ing yaumil qiyamah.. امين امين يا رباالعالمين
Hadhirin rahimakumullah,
Berbicara tentang kewajiban orang tua terhadap anak, tentunya tidak luput dari kewajiban untuk memberikan nama yang baik kepada anaknya. “Asma ingkang sahe”, nggeh nopo nggeh? Namun apakah kewajiban orang tua terhadap anak yang baru lahir hanya sebatas itu saja? Tentu saja tidak kan kawan-kawan? Nggeh nopo nggeh? Nah, pada kesempatan kali ini mari kita ulas satu per satu mengenai kewajiban orang tua terhadap anak yang baru lahir. Yang pertama, membacakan adzan dan iqamah ketika lahir. Hal ini bertujuan untuk memperdengarkan kepada sang bayi sejak dini tentang kalimat tauhid dan kalimat syahadat yang merupakan pintu gerbang masuknya seseorang kedalam agama Islam. Selain itu, juga menjauhkan si anak dari bisikan syaiton yang senantiasa menantikan kelahirannya untuk dijadikan pengikutnya. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada umatnya untuk menyuarakan adzan bagi bayi yang baru dilahirkan di telinga kanannya dan membacakan iqamah di telinga kirinya. Diriwayatkan dari Abu Rafi, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw beradzan di telinga Hasan bin Ali ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Yang kedua adalah membersihkan mulut bayi. Dalam istilah Islam, ini disebut dengan tahnik, yakni membersihkan mulut bagian atas bayi dari dalam dengan kurma yang telah dikunyah sampai betul betul lumat.
عن عائشة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يؤتي بالصبيان فيبرك عليهم ويحنكهم
“Dari Aisyah bahwa Rasulullah saw mendatangi beberapa bayi, lalu mendoakan mereka agar mendapat keberkahan dan membersihkan mulut mereka.”
Yang ketiga adalah mencukur rambut kepala. Adapun tujuan mencukur rambut disini selain mengikuti sunnah Rasulullah saw, menurut Ibnul Qayyim adalah sebagai upaya penyehatan bagi sang bayi agar menjadi lebih terbuka, rambutnya akan lebih subur, dan mungkin juga akan berpengaruh pada kekuatan daya penglihatan, pendengaran, dan penciumannya.
Kemudian yang keempat adalah pelaksanaan aqiqah, yaitu memotong domba atau kambing untuk bayi yang baru dilahirkan.
عن سمرةبن جندب ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى  رواه ابو داود
Diriwayatkan dari Samrah bin Jundub bahwa Rasulullah saw bersabda, “Semua anak tergantung (tergadai) dengan aqiqoh (domba)nya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (H.R. Abu Dawud)
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Ummu Karaz Al-Ka’biyah bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang aqiqah, beliau bersabda, “Untuk seorang anak laki-laki dua ekor dan untuk seorang anak perempuan seekor, dan tidak ada salahnya domba jantan atau betina.” (H.R. Tirmidzi) Namun ada hadits yang diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi bahwa Nabi saw memotong seekor domba saja atas kelahiran Hasan dan Husain. Dengan demikian, sebagian ulama memutuskan bahwa aqiqah bagi bayi laki-laki maupun perempuan boleh sama, yaitu seekor domba. Dan terkait dengan waktunya, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi aqiqah dapat dilakukan pada hari ketujuh, atau hari keempat belas, atau hari kedua puluh satu. Namun beberapa ulama berpendapat bahwa jika pada hari-hari tersebut belum juga dapat dilaksanakan aqiqah maka dapat dilakukan pada hari yang lain yang memungkinkan.
Hadirin rahimakumullah,
Kewajiban orang tua terhadap anak yang selanjutnya adalah memberikan nama yang baik. Ingat ya, “asma ingkang sahe”  karena sejatinya nama adalah doa orangtua kepada anaknya. Pandonga niku sayektine kan sing sahe, mosok nggih larene diparingi asma sing mboten lumrah. Misal, su’udzon, farji, syaiton, lan sanes-sanesipun. Nadyan asma niku wonten ingdalem Al Qur’an, ananging maknanipun kan mboten sahe. Nggeh nopo nggeh? Kados hadits menika;
اكرموا اولادكم وحسنوا اسماءهم (رواه ابن ماجه)
Artinya: Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah nama-namanya (H.R. Ibnu Majah)
Hadhirin wal hadhirat, awake gering katoke mlorot,
Pemberian nama juga menjadi cermin kepribadian dan pendidikan orangtua. Oleh karena itu, memberi nama yang baik bagi anak adalah sesuatu yang sangat penting. Rasulullah saw pun menganjurkan kepada orangtua yang memiliki cita-cita dan harapan untuk disematkan dan digambarkan melalui nama anak-anaknya. Dengan demikian, harapan orang tua kelak akan bisa dicapai atau dimiliki anak-anaknya. Amin Allahumma Amin. Dan sesungguhnya pada hari kiamat nanti, kita akan dipanggil dengan nama-nama kita dan nama ayah kita.
عن ابى الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انكم تدعون يوم القيامة باءسمائكم واسماء ابائكم فحسنوا اسماءكم (رواه ابو داوود وابن ماجه)
Artinya : Dari Abu Darda’ ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya kamu diseru pada hari kiamat dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu, maka baikkanlah nama-namamu (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam Alqur’an juga disebutkan
ادعوهم لابائهم هو اقسط عندالله ج فان لم تعلموا ابائهم فاءخوانكم فى الدين ومواليكم ج وليس عليكم جناح فيما اخطاءتم به صلى ولكن ما تعمدت قلوبكم ج وكان الله غفورا رحيما (الاحزاب : 5)
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al Ahzab: 5)
Hadirin rahimakumullah,
Lalu bagaimana langkah kita sebagai orangtua untuk bisa memiliki anak-anak shalih dan shalihah? Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan bagi umat Islam, mengajarkan hal ini dengan menuturkan kisah Luqman dalam mendidik anaknya, yang terdapat dalam surah Luqman [31] ayat 13-19. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Luqman mengajari anaknya dimulai dengan mengenalkan tauhid (mengesakan Allah). Hal ini sangat penting sebagai fondasi awal si anak dalam menyertai tindakan-tindakan kesehariannya. Ingatkah kita pada kisah Umar bin Khattab yang sedang berjalan-jalan seraya mengawasi aktivitas rakyatnya. Ia bertemu dengan seorang anak yang sedang menggembalakan domba-domba milik majikannya. Kemudian Umar mengujinya agar anak tersebut menjual satu ekor domba saja kepadanya, apalagi sang majikan tidak mengetahuinya. Apa jawaban si anak? Ternyata ia tidak tergoda dengan tawaran Umar lantaran ia takut kepada Allah swt. Meskipun majikannya tidak melihat apa yang ia lakukan, tetapi Allah swt melihatnya. Subhanallah.
Setelah itu, Luqman mengajarkan bagaimana cara berbuat baik kepada orangtua, dilanjutkan dengan pelaksanaan kewajiban kepada Allah swt berupa shalat, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran serta berlaku sabar. Demikian pula tentang tata cara berhubungan dengan sesama manusia, yaitu dengan bersikap rendah hati, tidak sombong dan angkuh, serta bersikap yang wajar ketika berjalan dan berbicara.
Nah, oleh karena itu kita sebagai calon-calon orang tua hendaknya mengajarkan kebaikan kepada anak-anak kita nantinya agar mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak. Dan menjauhkan mereka dari godaan-godaan dunia yang hanya bersifat sementara. Karena sesungguhnya dunia ini hanyalah sebuah panggung sandiwara dimana kita disini ibarat wayang yang dilakonkan oleh dalangnya dengan alur ceritanya adalah aktivitas kehidupan kita sehari-hari.
Ndonya niki panggung sandiworo, Ceritane polahe manungso
Paribasan wayang lan dalange, Opo lakone opo lakone
Yen wayange mung manut dalange
صلاة الله سلام الله على طه رسول الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Yun iyun iyun badan, badan siji bakale mati
Wonten ndonya nggadhahi doso, wonten akhirat dipun sikso
صلاة الله سلام الله على طه رسول الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Ya Allahu Ya Rabbi, Kulo nyuwun saged ngaji
Saged paham lan saged ngerti, dhateng ilmu ingkang manfa’ati
صلاة الله سلام الله على طه رسول الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Cilik cilik di wulang ngaji, mbesok gedhe supoyo ngaji
Ngaji Qur’an esok lan sore, yen wis pinter digawe dhewe
صلوا على النبي محمد
Hadirin rahimakumullah,
Demikianlah yang diajarkan Luqman kepada anaknya. Hendaknya kita juga bisa mengajarkannya kepada anak-anak kita kelak. Tentunya tidak hanya sekedar lewat perkataan, tetapi dengan perbuatan, memberikan contoh teladan yang dapat dilihat secara nyata oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari. Ringkasnya jika orang tua ingin anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah maka jadilah pula orangtua yang shalih dan shalihah.
Demikian yang dapat saya sampaikan.
Juminten gejedug mejo, cekap semanten atur kawulo. Mbok bilih wonten kalimat ingkang mboten trep wonten ing manah, kula nyuwun agunging samudro pangaksami.

وباالله توفق والهداية والعفو منكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PAI Bukanlah Sebuah Pelarian

PAI Bukanlah Sebuah Pelarian
Tersesat di jalan yang benar. Mungkin itulah ungkapan yang sangat cocok untuk diriku. Berawal dari kisah sebelumnya, ketika aku harus meninggalkan impianku untuk bisa mengambil prodi sesuai harapanku dan ternyata Tuhan berkehendak lain. Tiada hal yang bisa kulakukan selain sabar dan ikhlas. Apa artinya memendam perasaan benci, kecewa, marah, dan lain sebagainya, sementara teman-temanku yang lain sudah mulai merancang cita-citanya. Aku harus berjuang dari sekarang. Tak peduli apa perkataan orang, aku akan terus berjuang. Kan kubuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku bisa lebih dari mereka yang meremehkanku.
Hari-hari bersama kawan baru di negeri rantau memang tidak mudah. Apalagi ini untuk pertama kalinya aku tinggal berjauhan dari orang tua. Namun perlahan dengan berjalannya waktu, semua mulai berjalan dengan rapi dan teratur. Teman yang dulunya sungkan, kini jadi akrab. Bahkan “jaim jaiman bareng” pun bukan menjadi hal yang baru. Pertama kali duduk di bangku jurusan PAI, aku benar-benar sangat tertinggal. Bagaimana tidak? Aku tidak pernah mengenyam pendidikan pondok, sekolah pun di sekolah umum, bukan sekolah yang berbasic keagamaan. Berbeda dengan mayoritas teman sekelasku yang memang berasal dari sekolah yang berbasic keagamaan. Namun aku terus berusaha agar mampu mengimbangi teman-temanku yang lain.
Begitu cepat waktu berlalu, perlahan aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman seperjuangan. Memang manusia tiada yang sempurna, jadi dengan ketidaksempurnaan itu kami selalu bisa berbagi dan saling melengkapi. Hari-hari yang kulalui memang tidak mudah. Apalagi jarak kos dengan kampus tempatku menuntut ilmu lumayan jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, bisa sampai 15 menit. Aku adalah tipe orang yang “super irit”. Jadi tidak akan kubiarkan isi dompetku keluar hanya untuk membayar angkot. Aku lebih memilih untuk berjalan kaki, selain hemat, juga sehat pastinya. Terkadang aku risih mendengar temanku yang sering mengeluh mengenai tugaslah, ini lah, itu lah, apa lah. Bukankah kita termasuk orang-orang yang beruntung bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah? Coba tengok ke belakang sejenak, banyak yang lebih menderita. Banyak yang ingin kuliah namun terhalang ekonomi, banyak juga anak yang masih kecil namun harus berjuang untuk menghidupi keluarga, dan juga banyak orang yang selalu mengkhawatirkan mengenai apa yang bisa mereka makan esok hari. Keadaan memaksa mereka harus menunda dan mengalihkan mimpi-mimpi mereka. Tetapi lihatlah, mereka tidak pernah mengeluh. Bahkan senyuman manis tidak luput dari wajah mereka. Aku beruntung sudah mendapat gemblengan dari Tuhan selama satu tahun. Satu tahun yang sangat bermakna. Satu tahun yang penuh dengan tantangan, cibiran, ejekan, dan lain sebagainya. Aku jadi lebih mengerti tentang makna hidup dan kehidupan. Aku jadi lebih bisa menghargai orang lain dan khususnya diriku sendiri.
Banyak yang mengatakan bahwa jurusan PAI adalah prodi yang paling mudah jika dibandingkan dengan prodi yang lain. Iya mungkin bisa dikatakan seperti itu. Tapi tidak bagiku. Berada di jurusan PAI merupakan awal dari sebuah tanggung jawab besar yang akan kita emban, karena apa  yang kami ajarkan adalah mengenai ilmu-ilmu agama yang akan dijadikan bekal anak didik di akhirat kelak. Tentu bukan main-main. Pertanggungjawaban kami dihadapan Tuhan akan lebih berat karena yang kami ajarkan menyangkut kaidah-kaidah keagamaan.
Saya pribadi sebagai seorang mahasiswi PAI berpesan kepada siapapun, bahwa semua hal yang kita jalani memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan tentu suatu pilihan disiplin ilmu memiliki tantangan yang berbeda-beda. Maka jangan sampai kita meremehkan ilmu apapun. Entah itu ilmu-ilmu agama maupun ilmu umum yang menyangkut kehidupan dunia.

Hari-hari yang kulalui sangatlah bervariasi. Masalah yang kuhadapi pun sangat beragam. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa “Masalah adalah ujian pendewasaan” maka jangan sampai kita mengeluh atas masalah yang menimpa diri kita. Aku memang lebih suka untuk diam dibanding bercerita kepada teman, sahabat, ataupun orang tua. Aku lebih suka untuk mencurahkan semua masalah dan isi hatiku kepada Sang Maha Pencipta karena aku yakin tidak ada jalan yang lebih baik selain atas petunjukNya. Memang benar ketika orang tuaku meminta agar aku memilih prodi PAI. Aku sangat bersyukur bisa mendapat materi-materi keagamaan yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Kini aku mulai merasakannya, bisa menjadi pribadi yang lebih baik ketika masuk dan berkecimpung didalamnya.

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...