AKTUALISASI
PENGEMBANGAN SAINS
DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR’AN SURAT AZ-ZUMAR AYAT 9
DAN AL-QUR’AN
SURAT AL-AN’AM AYAT 101
A.
Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia telah memberikan kontribusi
yang besar untuk belajar dan menimba ilmu pengetahuan. Wahyu yang pertama kali
turun juga mengisyaratkan kepada manusia untuk terus belajar dan mengkaji
ciptaan Allah Swt. Dalam berbagai kesempatan, manusia dari waktu ke waktu terus
melakukan pengkajian terhadap Al-Qur’an. Pada dasarnya, ilmu-ilmu yang ada didalam
Al-Qur’an dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ilmu agama, ilmu kealaman dan ilmu sosial humaniora. Namun semenjak abad
ke-13 umat Islam mulai melakukan dikhotomi terhadap ilmu. Fiqh dianggap sebagai
induk dan mahkota ilmu, dan ulama’ yang awalnya bermakna luas “orang yang
berilmu” telah mengalami penyempitan makna menjadi “orang yang ahli dalam
bidang fiqh”. Inilah penyebab awal dari kemunduran dalam dunia Islam.
Sebagian kalangan mengartikan sains adalah ilmu pengetahuan yang
teratur (sistematik) yang boleh diuji atau dibuktikan kebenarannya.[1] Ilmu
pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh
melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method), misalnya sains
fisika, kimia, biologi, astronomi, termasuk cabang-cabang yang lebih detail
lagi seperti hematologi, zoologi, botani, cardiologi, metereologi, geologi,
geofisika, dan lain-lain. Sedangkan agama adalah dasar dan pengatur kehidupan.
Jadi agama juga merupakan basis dari segala ilmu pengetahuan. Maknanya
pengembangan ilmu pengetahuan harus selaras dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman umat Islam menjadi qaidah fikriyah
(landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh
bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia.
Selama empat belas abad ini, khazanah intelektual Islam telah
diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan
Al-Qur’an. Walaupun demikian terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami
Al-Qur’an secara ayat per ayat bahkan kata perkata. Selain itu pemahaman akan
Al-Qur’an terutama didasarkan pada pendekatan fisiologis gramatikal.[2]
Manusia sebagai khalifah di muka bumi wajib melakukan pengkajian
terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini selaras dengan wahyu pertama yang turun
kepada Nabi Muhammad Saw yakni surat Al-Alaq ayat 1-5 yang memerintahkan
manusia untuk “membaca”. Membaca dalam hal ini bukanlah sekedar membaca tanpa
memahami maksud dan tujuannya, melainkan mengkaji dan menelaah terhadap
fenomena yang terjadi di alam semesta. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang
mengisyaratkan kepada manusia untuk melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, pada makalah berikut ini penulis mencoba memaparkan bagaimana
pengembangan ilmu pengetahuan (sains) berdasarkan perspektif Al-Qur’an surat
Az-Zumar ayat 9 dan Al-An’am ayat 101.
B.
Pengembangan Pemikiran Ilmu Pengetahuan (Sains) dalam Al-Qur’an
Surat Az-Zumar ayat 9
Penggunaan Al-Qur’an dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu
pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari tujuan pokok Al-Qur’an yang bukan
diarahkan untuk menerangkan persoalan-persoalan ilmiah, tetapi tujuannya adalah
memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di
akhirat kelak. Hubungan ilmu pengetahuan dengan tujuan pokok Al-Qur’an tersebut
dapat dilihat lebih lanjut dalam ayat berikut.
أَمَّنْ
هُوَ قنِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ الأخِرَةَ وَيَرْجُوْا
رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ والَّذِيْنَ لَا
يَعْلَمُوْنَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُوْ أُوْلُوْا اللأَلْببِ
Artinya:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut
kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? “Adakah sama
orang-orang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya
orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat tersebut merupakan suatu bentuk dorongan dari Al-Qur’an kepada
umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.[3]
Manusia dari zaman Nabi Adam hingga saat ini terus melakukan pengkajian
terhadap ilmu pengetahuan. Pada zaman dahulu, atau kita biasa mendengarnya
dengan zaman manusia purba, ilmu pengetahuan masih sebatas pengetahuan
primitif. Manusia pada masa itu hanya memikirkan bagaimana caranya bertahan
hidup dan mendapatkan makanan. Sehingga muncullah yang namanya masa berburu dan
meramu, kemudian pemikiran manusia pada masa itu semakin berkembang. Setelah
hanya mencari makanan dengan berburu (mengandalkan alam), mereka mulai berpikir
untuk bisa menghasilkan sendiri yaitu dengan bercocok tanam dan membuat
barang-barang yang berguna bagi kehidupan mereka seperti kapak, peralatan
masak, dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia mulai
menelaah tentang fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta sehingga
muncullah ilmu-ilmu baru seperti ilmu pengetahuan alam (natural sains)
dan ilmu pengetahuan sosial (social sains). Didalam surat Az-Zumar
tersebut dijelaskan bahwa hanya orang-orang berakallah yang dapat menerima
pelajaran. Dari kalimat tersebut dapat dipahami bahwa manusia harus terus
belajar. Lalu “apa yang dipelajari?” tentu saja ilmu pengetahuan. Kemudian
“ilmu pengetahuan yang bagaimana?”. Ilmu pengetahuan yang dimaksud disini
adalah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk
upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang
ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata
lain, pengetahuan memperhatikan objek ontologis, landasan epistemologis, dan
landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri.
Menurut Harun Nasution (1995) bahwa secara garis besar Sejarah
(kebudayaan) Islam dapat dibagi kedalam tiga periode, yaitu: periode klasik
(650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800 M s.d
sekarang). Dalam realitas sejarahnya, periode klasik menggambarkan masa
kejayaan, keemasan atau kemajuan dunia Islam, pada periode pertengahan
menggambarkan masa kemunduran dunia Islam, dan pada periode modern
menggambarkan masa kebangkitan dunia Islam.[4]
Perkembangan pemikiran dunia Islam terjadi pada periode modern atau masa
kebangkitan Islam (abad ke-18). Sebelumnya, yakni sekitar abad ke-13 umat Islam
mengalami kemunduran karena pemikirannya yang sempit dengan melakukan dikhotomi
terhadap ilmu-ilmu. Umat Islam memfokuskan diri pada fiqh dan fiqh dijadikan
sebagai mahkota ilmu. Terjadi diskriminasi antara ilmu agama dengan ilmu
pengetahuan umum sehingga ilmu pengetahuan umum tidak berkembang dan akhirnya
lenyap. Akibatnya umat Islam sangat mudah dihegemoni oleh bangsa Barat.
Pada zaman klasik, Islam mengalami zaman keemasan karena para ulama
dalam melaksanakan etos keilmuan lebih banyak mempergunakan akal untuk
melaksanakan ajaran Al-Qur’an. Para ulama melaksanakan ajaran hadis untuk
menuntut ilmu bukan hanya “ilmu agama” tetapi juga ilmu yang sampai di negeri
Cina (bukan ilmu agama), mengembangkan ilmu agama dengan berijtihad dan
mengembangkan ilmu pengetahuan (sains) dengan mempelajari dan menguasai ilmu
pengetahuan dan filsafat Yunani yang terdapat di Timur Tengah pada zaman
mereka, sehingga timbullah ulama fiqh, tauhid (kalam), tafsir, hadis, ulama
bidang sains (ilmu kedokteran, matematika, optika, kimia, fisika, geografi) dan
lain-lain.
Pada periode pertengahan, pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah
tampaknya mengalami stagnasi dan surut, bahkan hilang dari dunia Islam dan
pindah ke Eropa melalui mahasiswa-mahasiswa Barat yang datang belajar ke
Andalusia (Spanyol Islam) dan melalui penerjemahan buku-buku Islam ke dalam
bahasa Latin. Di Eropa berkembang Averroisme yang membawa pemikiran rasional,
filosofis, dan ilmiah dari Ibnu Rusyd (filosof Islam abad ke-12 M). Averroisme
mendorong lahirnya Renaissans di Eropa, yang kemudian membawa Eropa ke zaman
modern dengan kemajuannya yang pesat dalam sains dan teknologi.[5]
Para ulama pada masa ini tidak berani melakukan ijtihad dan pengetahuan mereka
terbatas pada ilmu agama saja karena ilmu pengetahuan umum tidak berkembang
lagi dan akhirnya lenyap. Pada periode ini pengembangan ilmu fiqh adalah yang
paling menonjol, sehingga berbagai masalah sosial kemasyarakatan dan sebagainya
selalu dilihat dari sudut pandang (paradigma) fiqh. Motivasi pengembangan ilmu
fiqh ini sering dikaitkan dengan firman Allah Swt.
وَمَا
كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ
فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
Artinya:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin pergi semuanya (ke medan
perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka
itu dapat menyadari dirinya.” (QS. At-Taubah, 9: 122)
Menurut al-Maraghi ayat tersebut memberi isyarat tentang kewajiban
memperdalam ilmu agama (wujub al-tafaqqub fi al-din) serta menyiapkan
segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya.[6]
Umat Islam pada masa itu memiliki keyakinan bahwa mempelajari fiqh adalah
wajib. Padahal yang dimaksud kata tafaqquh dalam ayat ini adalah
memperdalam ilmu agama, baik itu ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu tafsir, ilmu
tasawuf, dan sebagainya. Ayat ini juga menjelaskan betapa pentignya ilmu
pengetahuan agama untuk dipelajari dan dikembangkan demi kemaslahatan umat
manusia. Jika manusia tidak memperlajari ilmu agama, maka yang terjadi adalah
ketidakseimbangan antara pengetahuan dengan etika karena didalam agama
mengajarkan bagaimana manusia beretika terhadap ilmu pengetahuan.
Pada periode modern (abad ke-19 M), orang Eropa yang dahulunya
mundur dan sekarang maju itu datang ke dunia Islam. Dunia Islam terkejut dan
tidak menyangka bahwa Eropa yang telah mereka kalahkan pada zaman klasik itu,
ternyata pada periode modern menguasai mereka. Kerajaan Turki Usmani pada zaman
pertengahan (abad ke-18 M), mulai mengalami kekalahan dalam peperangannya di
Eropa. Napoleon Bonaparte dalam masa tiga minggu dapat menguasai seluruh Mesir
pada 1798 M, Inggris memasuki India dan menghancurkan Kerajaan Mughal pada 1857
M. Dalam keadaan demikian inilah, dunia Islam bangkit dan muncul kesadaran
bahwa mereka telah mundur dan jauh ditinggalkan Eropa. Karena itu timbullah
ulama dan para pemikir Islam dengan ide-ide yang bertujuan memajukan dunia
Islam dan mengejar ketinggalan dari Barat, sehingga dunia Islam pun memasuki
periode modern.[7]
Ilmu pengetahuan pada masa ini perlahan mulai bangkit kembali. Lahirlah
tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang mampu mengadakan perubahan dan pembaharuan
terhadap dunia Islam yang sudah semakin tertinggal dari bangsa Barat.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa perkembangan pemikiran di
dunia Islam mengalami pasang surut. Islam yang dulunya mengalami masa kejayaan
dan keemasan dibandingkan dengan bangsa Barat menjadi terbelakang pada periode
pertengahan. Bahkan ilmu-ilmu yang dibawa oleh bangsa Barat dianggap sebagai “kafir”
bagi yang mempelajarinya. Padahal bangsa Barat menyalin dan mempelajari
ilmu-ilmu tersebut dari kitab-kitab umat muslim pada masa klasik dengan diganti
menggunakan bahasa mereka. Ilmu pengetahuan pada periode pertengahan ini
benar-benar mengalami kemerosotan yang sangat drastis sehingga bangsa Barat
dengan mudahnya melakukan penjajahan terhadap negara-negara muslim. Seiring
dengan berjalannya waktu, para pemikir muslim mulai melakukan gerakan
pembaharuan sehingga Islam bangkit kembali dan para cendekiawan muslim terus
melakukan pengkajian terhadap sains dan agama dengan tidak melakukan dikhotomi
terhadap keduanya. Pada dasarnya, Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia untuk
melakukan pengkajian terhadap ilmu pengetahuan (sains). Oleh karena itu, pada
masa sekarang ini para ilmuwan telah banyak melakukan penelitian dan penemuan
baik di bidang sains murni maupun sains terapan.
C.
Pengembangan Sains dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am Ayat 101
Wacana tentang “sains” dan “agama” bisa dikatakan menemukan bentuk
barunya dalam sekitar empat dasawarsa terakhir ini. Meskipun telah amat lama
dibahas, sains sebagai disiplin modern baru pada beberapa dasawarsa terakhir
ini ia tumbuh subur secara sistematik.[8] Pada
abad ke-13 terjadi dikhotomi ilmu dimana umat muslim hanya memfokuskan diri
pada ilmu fiqh karena fiqh dianggap sebagai induk ilmu atau mahkota ilmu.
Inilah yang menjadi penyebab awal kemunduran umat Islam. Padahal semua ilmu itu
penting dan integrasi antara agama dengan sains merupakan bagian penting dalam
kehidupan sejarah umat manusia. Hakikat inilah yang menjadi dasar perkembangan
penelitian ilmiah para ilmuwan dalam mengkaji Al-Qur’an.
Dalam perspektif historis, pada peradaban pra modern seperti
Yunani, Cina, India, dan peradaban Islam Klasik, paradigma ilmu pengetahuan
(yang lebih dikenal dengan paradigma ilmu pengetahuan tradisional) adalah
bersifat integratif. Ini berbeda dengan paradigma ilmu pengetahuan (Barat)
modern, baik dalam hal tujuan, metodologi, sumber inspirasi, maupun
asumsi-asumsi dasar filosofisnya tentang manusia, pengetahuan dan realitas alam
semesta. Dalam paradigma ilmu pengetahuan tradisional, antara dimensi empirik
dan dimensi spiritual masih dalam suatu peta keilmuan, tanpa terpilah. Seperti
dikatakan Osman Bakar bahwa: “Perbedaan utama lainnya antara sains pra-modern
dan modern adalah mengenai posisi sains dalam hubungannya dengan jenis
pengetahuan lain. Dalam peradaban-peradaban pra-modern, sains tak pernah
dipisahkan dari pengetahuan spiritual. Sebaliknya, kita temukan sebuah kesatuan
organik antara sains dan pengetahuan spiritual.”[9]
Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah
penekanannya terhadap masalah ilmu (sains). Al-Qur’an dan al-Sunnah mengajak
umat manusia untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan
orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Secara jelas,
Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mengadakan observasi, berfikir, meneliti,
dan memperoleh ilmu tersebut. Pada motivasi ini secara eksplisit tercantum pada
QS. Al-Ankabut ayat 20 yang menyatakan:
قُلْ
سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللهُ
يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْأَخِرَةَ ج
إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah
menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali
lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut:
20)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah menganjurkan kepada manusia
untuk mengunjungi tempat-tempat di muka bumi seraya memperhatikan dan
memikirkan bagaimana Allah telah menciptakan makhluk-Nya. Perhatikanlah susunan
langit dan bumi, serta ribuan bintang yang gemerlapan, sebagian ada yang tetap
pada posisinya, tetapi berputar pada garis orbitnya. Demikian juga di bumi, gunung-gunung
dan daratan yang luas diciptakan Allah sebagai tempat hidup. Beraneka ragam
tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, sungai dan lautan yang terbentang luas.
“Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah
bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaanya?”. Redaksi Al-Qur’an
disini menggunakan kata kerja masa lalu (past tense) “Bagaimana Allah
menciptakan manusia dari permulaannya?”. Hal yang demikian itu seperti
galian-galian purbakala yang diteliti oleh beberapa ilmuwan pada saat ini guna
mengetahui garis kehidupan darinya. Bagaimana kehidupan itu dimulai? Bagaimana
berkembangnya? Bagaimana ia meningkat? Jika mereka tak sampai kepada
pengetahuan tentang rahasia kehidupan, maka apakah kehidupan itu? Darimana
datangnya kehidupan itu ke bumi? Bagaimana makhluk hidup yang pertama ada di
bumi?.[10]
Alam semesta merupakan medium (sarana) untuk mengantarkan manusia
pada pemahaman komprehensif guna menemukan hakikat dari kebenaran absolut.[11]
Alam dan Al-Qur’an berasal dari sumber yang sama yaitu Allah Swt. Perbedaannya
adalah bahwa alam merupakan ayat yang diciptakan, sedangkan Al-Qur’an merupakan
ayat yang diturunkan (wahyu). Oleh karena itu, bagi seorang ilmuwan muslim,
kegiatan sains seharusnya menjadi suatu usaha untuk membaca dan menafsirkan
“kitab Alam” sebagaimana halnya ia
membaca dan menafsirkan Al-Qur’an. Berbicara mengenai asal-usul alam semesta,
Al-Qur’an secara tereksplisit telah menjelaskan dalam QS. Al-An’am berikut:
بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضِ صلى
أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ, وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ, صَحِبَةٌ صلى
وَخَلَقَ كُلَّ شَىءٍ صلى
وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya:
“Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia
tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui
segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 101)
Keterangan yang diberikan Al-Qur’an ini bersesuaian penuh dengan
penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat
ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu,
muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang terjadi dalam
sekejap. Peristiwa ini yang dikenal dengan Big Bang, membentuk
keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari
suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan
modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk
akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana
alam semesta muncul menjadi ada. Sensor yang sangat peka pada satelit ruang
angkasa, yakni COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap
sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Fakta penemuan ini merupakan bukti
terjadinya peristiwa Big Bang, juga merupakan penjelasan ilmiah bagi
fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.[12]
Alam semesta merupakan ciptaan Allah swt yang didalamnya terdapat
berbagai komponen, diantaranya adalah planet-planet, bintang, matahari, makhluk
hidup, dan lain sebagainya. Perkembangan sains dan teknologi juga turut
menjelajahi perkembangan alam semesta termasuk fenomena-fenomena yang ada
didalamnya. Menjelang abad ke-19 penyelidikan tentang asal mula alam raya
bergerak dari pemikiran filsafat yang bersifat spekulatif menuju pemikiran
ilmiah yang faktual, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Para pakar
ilmu fisika awal abad ke-20 menyimpulkan bahwa alam semesta tercipta dari
ketiadaan, sebagai akibat dari goncangan vakum yang membuatnya mengandung
energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya negatif.
Teori Big Bang seperti yang telah dijelaskan diatas
merupakan wujud dari pengembangan ilmu pengetahuan, dimana dalam teori tersebut
disebutkan bahwa alam semesta ini pada awalnya merupakan satu bola yang terus
mengembang karena suhu yang sangat panas. Karena perkembangan suhu tersebut
semakin panas (bisa diibaratkan seperti roti kismis yang sedang dipanggang),
maka terjadilah ledakan besar sehingga bola tersebut akhirnya pecah dan menjadi
butiran-butiran kecil. Butiran-butiran itulah yang kemudian menjadi
planet-planet yang kita kenal sampai saat ini berjumlah 8 yaitu; Merkurius, Venus,
Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Awalnya penemuan planet
tersebut berjumlah sembilan yaitu ditambah dengan ‘Pluto’. Namun, penemuan
ilmuwan akhir-akhir ini menjelaskan bahwa Pluto sudah tidak bisa dikategorikan
sebagai planet lagi karena keberadaannya yang tidak statis pada garis orbitnya.
Penelitian mengenai terciptanya alam semesta ini dari masa ke masa
mengalami perkembangan dan dengan penelitian itu muncullah ilmu-ilmu
pengetahuan yang baru. Saat ini, kita dapat dengan mudah mengetahui iklim dan
cuaca yang akan terjadi ‘tentu saja karena adanya pengkajian sains’, yaitu
dengan lahirnya ilmu klimatologi dan metereologi. Kemudian dalam bidang
astronomi, kita telah banyak mendapatkan kemudahan dengan adanya ilmu tersebut
dan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Salah satu contoh dari aktualisasi
ilmu ini yaitu adanya penetapan awal ramadhan, penetapan 1 syawal, dan lain
sebagainya. Hal ini selaras dengan perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an
surat Al-An’am ayat 101 yaitu perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Memang Al-Qur’an bukanlah suatu buku yang menerangkan hukum-hukum alam. Namun
Al-Qur’an mengungkap fenomena-fenomena alam dan mencoba untuk menghubungkan
manusia dengan Allah sebagai pencipta dan pembimbing manusia, agar manusia
menyadari keberadaannya ditengah-tengah alam sebagai bagian dari rencana Allah.
D.
Pengembangan Sains di Indonesia
Dilihat dari segi historis-sosiologis, pengembangan ilmu
pengetahuan (sains) di Indonesia terbagi menjadi dua periode, yaitu periode
sebelum Indonesia merdeka (1900 – menjelang 1945) dan periode Indonesia merdeka
(1945 – sekarang). Pembagian tersebut didasarkan atas asumsi bahwa diskursus
pengembangan pendidikan Islam pada periode sebelum Indonesia merdeka pada
dasarnya lebih ditujukan pada upaya menghadapi pendidikan kolonial, sedangkan
pada periode Indonesia merdeka diarahkan pada upaya integrasi pendidikan Islam
dalam sistem pendidikan nasional.[13]
Pada awal abad 20 M, pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua
golongan, yaitu: (1) pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah Barat yang
sekuler yang tak mengenal ajaran agama; dan (2) pendidikan yang diberikan oleh
pondok pesantren yang hanya mengenal agama saja.[14]
Jadi ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia pada masa ini masih terpecah belah
dan belum bisa menjadi satu kesatuan sehingga ilmu pengetahuan tersebut sulit
untuk berkembang. Pelajar dari kalangan pesantren hanya mendapatkan ilmu agama
saja, hal tersebut mengakibatkan mereka tidak bisa berkembang dan tidak mengetahui
isu-isu yang terjadi di dunia serta tidak mengetahui ilmu pengetahuan umum.
Padahal seharusnya antara sains dengan ilmu agama harus dapat diintegrasikan
karena akan mendatangkan hasil yang sangat cemerlang sehingga masyarakat
Indonesia mampu melawan pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Oleh
karena itu, masyarakat Indonesia perlu mengadakan perubahan paradigma sains dan
agama dengan jalan, misalnya; (1) mendirikan tempat-tempat pendidikan dimana
ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum diajarkan bersama-sama; (2) memberikan
tambahan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum yang sekuler. Hal ini
diharapkan mampu melahirkan ulama-ulama (intelegensia) baru yang selain pandai
dalam ilmu-ilmu agama juga memahami ilmu-ilmu pengetahuan umum.
Pada masa awal kemerdekaan, pemerintah dan bangsa Indonesia
mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualistis, yaitu: (1) sistem
pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah umum yang sekuler, tak mengenal
ajaran agama, yang merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda; (2)
sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang tumbuh dan berkembang di kalangan
masyarakat Islam sendiri, baik yang bercorak isolatif-tradisional maupun
yang bercorak sintesis dengan berbagai variasi pola pendidikan.[15]
Pada perkembangannya, para pendiri bangsa Indonesia yang pada saat itu diketuai
oleh Ki Hajar Dewantara membuat suatu rumusan yang memberikan gambaran yang
jelas tentang satu sistem pengajaran nasional. Dengan pernyataan bahwa “pendidikan
dan pengajaran nasional bersendi agama dan kebudayaan bangsa serta menuju ke
arah keselamatan dan kebahagiaan masyarakat”, dan bahwa “usaha
kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan bangsa”,
nampaknya para pendiri bangsa dan negara ini ingin menekankan bahwa yang
dikehendaki dengan satu sistem pengajaran nasional bukanlah sistem
pendidikan dan pengajaran warisan pemerintah kolonial Belanda yang bercorak
sekuler dan netral terhadap agama, tetapi bukan pula sistem pendidikan Islam
warisan dari umat Islam. Nampaknya mereka mengehendaki terjadinya perpaduan
atau integrasi antara kedua sistem pendidikan dan pengajaran warisan budaya
bangsa tersebut menjadi “satu sistem pendidikan nasional”
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan (sains)
yang berkembang di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan bersifat sekuler
yaitu memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Namun pada
masa setelah kemerdekaan, muncullah gagasan-gagasan baru dari para pendiri
bangsa untuk mengintegrasikan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum
(sains). Hal ini dibuktikan dengan pengembangan penerapan pengajaran yang ada
pada saat ini. Sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan, juga memberikan materi
pelajaran ilmu pengetahuan umum kepada peserta didiknya. Dan sekolah-sekolah
umum juga tidak lupa untuk memberikan materi-meteri keagamaan kepada peserta
didiknya demi kemaslahatan masyarakat dan kebahagiaan di dunia maupun di
akhirat. Ada pepatah mengatakan “agama tanpa ilmu itu pincang sedangkan ilmu
tanpa agama itu buta”. Jadi, antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum
haruslah seimbang.
E.
Kesimpulan dan Penutup
Al-Qur’an sebagai “kitab Alam” telah mengisyaratkan kepada manusia
untuk melakukan pengkajian terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di alam
semesta. Didalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 9 telah dijelaskan bahwa manusia
harus melakukan pengembangan terhadap ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga
mengungkapkan pujian atas keutamaan ilmu, keutamaan ilmu, kemuliaan ulama, dan
keluhuran derajat. Al-Qur’an menempatkan ilmuwan pada kedudukan yang luhur
seperti halnya kedudukan ilmu.seperti pada penciptaan Adam, Al-Qur’an
mengatakan bahwa malaikat pun disuruh bersujud dihadapan Adam setelah ia
diajari nama-nama (ilmu pengetahuan). Pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia
Islam mengalami pasang surut. Pada periode klasik, ilmu pengetahuan umat Islam
mencapai tingkat kejayaanya dan lahirlah tokoh-tokoh ilmuwan muslim yang
terkenal seperti Ibnu Sina (Ahli dalam bidang kedokteran), Al-Khawarizmi (ahli
dalam bidang ilmu pasti dan penemu angka nol), Al-Kindi (ahli filsafat), dan
lain sebagainya. Namun pada periode pertengahan, ilmu pengetahuan mengalami
kemerosotan yang sangat drastis karena adanya dikhotomi terhadap ilmu. Kemudian
pada periode modern, ilmu pengetahuan dalam dunia Islam mulai bangkit kembali
dan lahirlah cendekiawan-cendekiawan muslim yang berusaha mengintegrasikan
antara ilmu agama dengan sains.
Alam semesta merupakan ciptaan Allah Swt yang didalamnya terdapat
berbagai komponen seperti planet, bintang, matahari, dll. Asal mula terciptanya
alam semesta telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an salah satunya adalah QS.
Al-An’am ayat 101. Ayat ini menjelaskan bahwa alam semesta ini tercipta dari
suatu ketiadaan (Teori Big Bang). Pengkajian terhadap alam semesta
semakin berkembang pesat sehingga pada saat ini lahirlah ilmu-ilmu baru yang
bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada umat manusia seperti ilmu metereologi,
klimatologi, astronomi, dan lain sebagainya.
Dilihat dari segi historis-sosiologis, pengembangan ilmu
pengetahuan (sains) di Indonesia terbagi menjadi dua periode, yaitu periode
sebelum Indonesia merdeka dimana ilmu pengetahuan pada masa ini masih bersifat
sekularistik dan periode Indonesia merdeka. Pada periode yang kedua ini ilmu
pengetahuan sudah tidak bersifat sekuler, tetapi lebih pada integrasi antara
ilmu agama dengan sains.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrachman
Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Abuddin Nata, Tafsir
Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Ahmad As
Shouwy, dkk, Mu’jizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema
Insani Press, 1995.
Khozin, Khazanah
Pendidikan Agama Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013.
Muhaimin, Pemikiran
dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Muhaimin, Wacana
Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Sayyid Quthb, Tafsir
fi zhilalil Qur’an dibawah naungan Al-Qur’an, jil. 9, Jakarta: Gema Insani
Pers, 2004.
[1] Khozin, Khazanah
Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 11
[2] Ahmad As
Shouwy, dkk, Mu’jizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK, (Jakarta:
Gema Insani Press, 1995), hlm. 24
[3] Khozin, Khazanah
Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 80
[4] Muhaimin, Pemikiran
dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers,
2012), hlm. 18
[5] Muhaimin, Pemikiran
dan Aktualisasi Pnngembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 21
[6] Abuddin Nata, Tafsir
Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 159
[7] Muhaimin, Pemikiran
dan Aktualisasi Pnngembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 22
[8]Khozin, Khazanah
Pendidikan Agama Islam, ... hlm. 78-79
[9] Abdurrachman
Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 103-104
[10] Sayyid Quthb, Tafsir
fi zhilalil Qur’an dibawah naungan Al-Qur’an, jil. 9, (Jakarta: Gema Insani
Pers, 2004), hlm. 98
[11] Khozin, Khazanah
Pendidikan Agama Islam, ... hlm. 19
[12] Khozin, Khazanah
Pendidikan Agama Islam, ... hlm. 20-21
[13] Muhaimin, Wacana
Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 69
[14] Muhaimin, Wacana
Pengembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 70
[15] Muhaimin, Wacana
Pengembangan Pendidikan Islam, ... hlm. 82