Kamis, 22 September 2016

Kekuatan Doa Meruntuhkan Dinding Kemustahilan

Doa adalah kekuatan utama bagi seorang muslim setelah melakukan usaha. Suatu usaha tanpa disertai dengan doa sama artinya dengan sombong. Sedangkan berdoa tanpa melakukan usaha sama artinya dengan bohong. Pada zaman yang modern ini, anak muda seringkali meremehkan kekuatan doa. Apalagi doa dari orang tua, terutama doa seorang ibu. Mereka lebih suka mengikuti keinginan dan hawa nafsu daripada mendengarkan nasehat yang diberikan oleh orang tua. Pada kesempatan kali ini, penulis akan memaparkan sepenggal kisah mengenai dahsyatnya doa dan ridho dari seorang ibu.
Masa itu adalah masa-masa pendaftaran masuk perguruan tinggi. Saya telah memiliki passion dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bisa memenuhi keinginan saya yaitu mendaftar pada prodi matematika. Disisi lain, orang tua menyarankan agar saya memilih prodi sesuai dengan yang disarankan mereka yakni PAI. Berat rasanya jika harus melepas pilihan saya dan berganti memilih prodi sesuai dengan saran orang tua. Hati saya selalu gelisah memikirkan hal ini hingga pada akhirnya orang tua mengetahui kegelisahan yang tengah saya rasakan. Mereka pun menenangkan saya dan membiarkan saya untuk memilih prodi sesuai dengan keinginan saya meskipun saya tahu, itu mereka lakukan semata-mata untuk membuat saya merasa senang dan bersemangat kembali.
Hari demi hari berlalu, akhirnya tibalah pengumuman ujian nasional dan saya sangat bersyukur karena berhasil meraih gelar wisudawan terbaik. Hal ini membuat orang tua saya merasa bangga atas prestasi yang telah saya raih selama SMA. Betapa senangnya hati ini ketika melihat kedua orang tua kita tersenyum bangga atas apa yang telah kita raih. Rasa syukur selalu terucap dalam diam, namun terkadang muncul perasaan gelisah dengan hasil SNMPTN. Tetapi, orang tua saya adalah orang yang luar biasa. Mereka mampu menenangkan saya ketika dilanda kegelisahan. Hingga pada akhirnya tibalah masa pengumuman hasil SNMPTN. Dengan perasaan cemas saya pergi ke warnet, dengan perasaan takut saya mulai membuka web. Lalu apa hasilnya? Sungguh benar, apa yang saya takutkan menjadi kenyataan. Dalam web tersebut, saya dinyatakan tidak lolos dalam SNMPTN. Betapa sedihnya hati saya ketika itu, namun saya bukanlah orang yang mudah putus asa. Meskipun masih dalam keadaan terpukul, saya memiliki semangat yang membara untuk mengikuti SBMPTN. Setiap hari saya selalu berlatih mengerjakan soal-soal SBMPTN, dan kembali lagi orang tua menyarankan untuk memilih prodi PAI. Namun saya masih bersikukuh dengan prodi matematika yang saya sukai. Apalah daya orang tua, mereka pun mengalah dan membiarkan saya untuk memilih prodi matematika.
Tanggal penetapan ujian SBMPTN telah ditetapkan dan saya pun mengikuti ujian dengan harapan bisa lolos di perguruan tinggi impian saya. Namun kenyataannya, lagi-lagi saya menelan kegagalan. Saya hampir putus asa, tetapi berkat dorongan dari orang-orang terdekat, saya pun mencoba peruntungan kembali dengan mengikuti tes jalur mandiri. Kali ini saya mengambil prodi lain dan mengikhlaskan matematika. Tetapi prodi yang saya pilih kali ini juga bukan prodi yang disarankan oleh kedua orang tua saya. Saya masih ingat, ketika itu saya memilih prodi PGMI. Entah atas dasar apa saya memilih prodi tersebut. Padahal ketika masih di rumah, saya berniat untuk mengambil prodi PAI sesuai dengan saran orang tua. Ujian pun berlangsung, dan sekali lagi saya mengalami kegagalan. Meskipun ketika itu saya sudah sangat yakin dengan jawaban-jawaban saya dan saya rasa soal-soalnya tidak terlalu sulit. Namun Tuhan berkehendak lain. Inilah jalan yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya terpaksa berhenti satu tahun dan dalam kurun waktu satu tahun itu saya mendapat berbagai pelajaran yang luar biasa. Andaikan saya tidak mengalami kejadian seperti ini, mungkin saya tidak akan menjadi manusia yang selalu tahan dalam segala cobaan. Waktu satu tahun itu saya pergunakan untuk bekerja dan tidak lupa saya juga selalu belajar.
Satu tahun berlalu, dan akhirnya tibalah masa pendaftaran mahasiswa baru perguruan tinggi. Kali ini saya benar-benar mendengarkan nasehat orang tua. Saya mengambil prodi PAI sesuai dengan saran mereka. Ternyata benar, ridho Allah tergantung pada ridho orang tua. Saya berhasil lolos dari ujian tes tertulis dan dinyatakan masuk menjadi mahasiswa baru sebuah universitas Islam negeri di Semarang. Rasa syukur senantiasa terucap baik dalam terang maupun gelap, dalam keadaan ramai maupun sepi. Sungguh doa dan ridho orang tua adalah kekuatan terbesar dalam meraih mimpi. Alasan mereka sederhana, yakni agar saya menjadi wanita yang selalu taat kepada Tuhan dan tidak hanya mencari penghidupan yang layak di dunia, melainkan mencari bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Dari kisah diatas, dapat disimpulkan bahwa kita tidak harus selalu mengikuti apa yang kita inginkan. Ada saatnya kita perlu mendengarkan nasehat yang diberikan oleh orang lain, terutama orang tua. Karena doa orang tua apalagi seorang Ibu, pasti diijabah oleh Yang Maha Kuasa. Tuhan memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tahu apa yang kita butuhkan. Jangan pernah menghakimi Tuhan ketika apa yang kita inginkan tidak dikabulkan. Tetapi cobalah untuk mengintrospeksi diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...