Doa adalah kekuatan utama bagi seorang muslim setelah melakukan
usaha. Suatu usaha tanpa disertai dengan doa sama artinya dengan sombong.
Sedangkan berdoa tanpa melakukan usaha sama artinya dengan bohong. Pada zaman
yang modern ini, anak muda seringkali meremehkan kekuatan doa. Apalagi doa dari
orang tua, terutama doa seorang ibu. Mereka lebih suka mengikuti keinginan dan
hawa nafsu daripada mendengarkan nasehat yang diberikan oleh orang tua. Pada kesempatan
kali ini, penulis akan memaparkan sepenggal kisah mengenai dahsyatnya doa dan
ridho dari seorang ibu.
Masa itu adalah masa-masa pendaftaran masuk perguruan tinggi. Saya telah
memiliki passion dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bisa memenuhi
keinginan saya yaitu mendaftar pada prodi matematika. Disisi lain, orang tua
menyarankan agar saya memilih prodi sesuai dengan yang disarankan mereka yakni
PAI. Berat rasanya jika harus melepas pilihan saya dan berganti memilih prodi
sesuai dengan saran orang tua. Hati saya selalu gelisah memikirkan hal ini
hingga pada akhirnya orang tua mengetahui kegelisahan yang tengah saya rasakan.
Mereka pun menenangkan saya dan membiarkan saya untuk memilih prodi sesuai
dengan keinginan saya meskipun saya tahu, itu mereka lakukan semata-mata untuk
membuat saya merasa senang dan bersemangat kembali.
Hari demi hari berlalu, akhirnya tibalah pengumuman ujian nasional
dan saya sangat bersyukur karena berhasil meraih gelar wisudawan terbaik. Hal
ini membuat orang tua saya merasa bangga atas prestasi yang telah saya raih
selama SMA. Betapa senangnya hati ini ketika melihat kedua orang tua kita
tersenyum bangga atas apa yang telah kita raih. Rasa syukur selalu terucap
dalam diam, namun terkadang muncul perasaan gelisah dengan hasil SNMPTN. Tetapi,
orang tua saya adalah orang yang luar biasa. Mereka mampu menenangkan saya
ketika dilanda kegelisahan. Hingga pada akhirnya tibalah masa pengumuman hasil
SNMPTN. Dengan perasaan cemas saya pergi ke warnet, dengan perasaan takut saya
mulai membuka web. Lalu apa hasilnya? Sungguh benar, apa yang saya takutkan
menjadi kenyataan. Dalam web tersebut, saya dinyatakan tidak lolos dalam
SNMPTN. Betapa sedihnya hati saya ketika itu, namun saya bukanlah orang yang
mudah putus asa. Meskipun masih dalam keadaan terpukul, saya memiliki semangat
yang membara untuk mengikuti SBMPTN. Setiap hari saya selalu berlatih
mengerjakan soal-soal SBMPTN, dan kembali lagi orang tua menyarankan untuk
memilih prodi PAI. Namun saya masih bersikukuh dengan prodi matematika yang
saya sukai. Apalah daya orang tua, mereka pun mengalah dan membiarkan saya
untuk memilih prodi matematika.
Tanggal penetapan ujian SBMPTN telah ditetapkan dan saya pun
mengikuti ujian dengan harapan bisa lolos di perguruan tinggi impian saya.
Namun kenyataannya, lagi-lagi saya menelan kegagalan. Saya hampir putus asa,
tetapi berkat dorongan dari orang-orang terdekat, saya pun mencoba peruntungan
kembali dengan mengikuti tes jalur mandiri. Kali ini saya mengambil prodi lain
dan mengikhlaskan matematika. Tetapi prodi yang saya pilih kali ini juga bukan
prodi yang disarankan oleh kedua orang tua saya. Saya masih ingat, ketika itu
saya memilih prodi PGMI. Entah atas dasar apa saya memilih prodi tersebut.
Padahal ketika masih di rumah, saya berniat untuk mengambil prodi PAI sesuai
dengan saran orang tua. Ujian pun berlangsung, dan sekali lagi saya mengalami
kegagalan. Meskipun ketika itu saya sudah sangat yakin dengan jawaban-jawaban
saya dan saya rasa soal-soalnya tidak terlalu sulit. Namun Tuhan berkehendak
lain. Inilah jalan yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya terpaksa berhenti
satu tahun dan dalam kurun waktu satu tahun itu saya mendapat berbagai
pelajaran yang luar biasa. Andaikan saya tidak mengalami kejadian seperti ini, mungkin
saya tidak akan menjadi manusia yang selalu tahan dalam segala cobaan. Waktu
satu tahun itu saya pergunakan untuk bekerja dan tidak lupa saya juga selalu
belajar.
Satu tahun berlalu, dan akhirnya tibalah masa pendaftaran mahasiswa
baru perguruan tinggi. Kali ini saya benar-benar mendengarkan nasehat orang
tua. Saya mengambil prodi PAI sesuai dengan saran mereka. Ternyata benar, ridho
Allah tergantung pada ridho orang tua. Saya berhasil lolos dari ujian tes
tertulis dan dinyatakan masuk menjadi mahasiswa baru sebuah universitas Islam
negeri di Semarang. Rasa syukur senantiasa terucap baik dalam terang maupun
gelap, dalam keadaan ramai maupun sepi. Sungguh doa dan ridho orang tua adalah
kekuatan terbesar dalam meraih mimpi. Alasan mereka sederhana, yakni agar saya
menjadi wanita yang selalu taat kepada Tuhan dan tidak hanya mencari
penghidupan yang layak di dunia, melainkan mencari bekal untuk kehidupan di
akhirat kelak.
Dari kisah diatas, dapat disimpulkan bahwa kita tidak harus selalu
mengikuti apa yang kita inginkan. Ada saatnya kita perlu mendengarkan nasehat
yang diberikan oleh orang lain, terutama orang tua. Karena doa orang tua
apalagi seorang Ibu, pasti diijabah oleh Yang Maha Kuasa. Tuhan memang tidak
selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tahu apa yang kita
butuhkan. Jangan pernah menghakimi Tuhan ketika apa yang kita inginkan tidak
dikabulkan. Tetapi cobalah untuk mengintrospeksi diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar