Minggu, 23 Oktober 2016

Pidato dengan tema Walimatut Tasmiyah


السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
الحمدلله الملك المبين الذي حيانا بالايمان واليقين اللهم صلي على سيدنا محمد خاتم الانبياء والمرسلين وعلى اله الطيبين واصحابه الاخيار اجمعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين  امابعد
Ingkang tansah kula hurmati, ustadz Mursid selaku dosen pembimbing mata kuliah retorika dakwah
Sarto ingkang tansah kula tresnani rencang-rencang saperjuangan PAI-1B ingkang insyaAllah dipunrahmati dening Allah swt.
Sepindah, sumangga panjenengan sedaya kula dhereaken tansah ngunjukaken puja lan puji syukur wonten ing ngarsanipun Allah Swt., ingkang sampun maringi pinten-pinten rahmat, pinten-pinten nikmat, hidayah saha inayahipun saengga kitha sedaya saged makempal manunggal wonten ing majlis punika kanthi sehat tanpo alangan setunggal menapa. بقولنا الحمد لله رب العالمين
Shalawat saha salam mugio tansah kunjuk katur dateng junjungan kitha Nabiyullah Nabi Agung Muhammad صلى الله عليه وسلم ingkang sampun nggulawentah kitha sedaya wiwit jaman jahiliyah tumuju maring jaman islamiyah. Mugio kitha sedaya pikanthuk syafa’atipun wonten ing yaumil qiyamah.. امين امين يا رباالعالمين
Hadhirin rahimakumullah,
Berbicara tentang kewajiban orang tua terhadap anak, tentunya tidak luput dari kewajiban untuk memberikan nama yang baik kepada anaknya. “Asma ingkang sahe”, nggeh nopo nggeh? Namun apakah kewajiban orang tua terhadap anak yang baru lahir hanya sebatas itu saja? Tentu saja tidak kan kawan-kawan? Nggeh nopo nggeh? Nah, pada kesempatan kali ini mari kita ulas satu per satu mengenai kewajiban orang tua terhadap anak yang baru lahir. Yang pertama, membacakan adzan dan iqamah ketika lahir. Hal ini bertujuan untuk memperdengarkan kepada sang bayi sejak dini tentang kalimat tauhid dan kalimat syahadat yang merupakan pintu gerbang masuknya seseorang kedalam agama Islam. Selain itu, juga menjauhkan si anak dari bisikan syaiton yang senantiasa menantikan kelahirannya untuk dijadikan pengikutnya. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada umatnya untuk menyuarakan adzan bagi bayi yang baru dilahirkan di telinga kanannya dan membacakan iqamah di telinga kirinya. Diriwayatkan dari Abu Rafi, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw beradzan di telinga Hasan bin Ali ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Yang kedua adalah membersihkan mulut bayi. Dalam istilah Islam, ini disebut dengan tahnik, yakni membersihkan mulut bagian atas bayi dari dalam dengan kurma yang telah dikunyah sampai betul betul lumat.
عن عائشة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يؤتي بالصبيان فيبرك عليهم ويحنكهم
“Dari Aisyah bahwa Rasulullah saw mendatangi beberapa bayi, lalu mendoakan mereka agar mendapat keberkahan dan membersihkan mulut mereka.”
Yang ketiga adalah mencukur rambut kepala. Adapun tujuan mencukur rambut disini selain mengikuti sunnah Rasulullah saw, menurut Ibnul Qayyim adalah sebagai upaya penyehatan bagi sang bayi agar menjadi lebih terbuka, rambutnya akan lebih subur, dan mungkin juga akan berpengaruh pada kekuatan daya penglihatan, pendengaran, dan penciumannya.
Kemudian yang keempat adalah pelaksanaan aqiqah, yaitu memotong domba atau kambing untuk bayi yang baru dilahirkan.
عن سمرةبن جندب ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى  رواه ابو داود
Diriwayatkan dari Samrah bin Jundub bahwa Rasulullah saw bersabda, “Semua anak tergantung (tergadai) dengan aqiqoh (domba)nya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (H.R. Abu Dawud)
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Ummu Karaz Al-Ka’biyah bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang aqiqah, beliau bersabda, “Untuk seorang anak laki-laki dua ekor dan untuk seorang anak perempuan seekor, dan tidak ada salahnya domba jantan atau betina.” (H.R. Tirmidzi) Namun ada hadits yang diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi bahwa Nabi saw memotong seekor domba saja atas kelahiran Hasan dan Husain. Dengan demikian, sebagian ulama memutuskan bahwa aqiqah bagi bayi laki-laki maupun perempuan boleh sama, yaitu seekor domba. Dan terkait dengan waktunya, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi aqiqah dapat dilakukan pada hari ketujuh, atau hari keempat belas, atau hari kedua puluh satu. Namun beberapa ulama berpendapat bahwa jika pada hari-hari tersebut belum juga dapat dilaksanakan aqiqah maka dapat dilakukan pada hari yang lain yang memungkinkan.
Hadirin rahimakumullah,
Kewajiban orang tua terhadap anak yang selanjutnya adalah memberikan nama yang baik. Ingat ya, “asma ingkang sahe”  karena sejatinya nama adalah doa orangtua kepada anaknya. Pandonga niku sayektine kan sing sahe, mosok nggih larene diparingi asma sing mboten lumrah. Misal, su’udzon, farji, syaiton, lan sanes-sanesipun. Nadyan asma niku wonten ingdalem Al Qur’an, ananging maknanipun kan mboten sahe. Nggeh nopo nggeh? Kados hadits menika;
اكرموا اولادكم وحسنوا اسماءهم (رواه ابن ماجه)
Artinya: Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah nama-namanya (H.R. Ibnu Majah)
Hadhirin wal hadhirat, awake gering katoke mlorot,
Pemberian nama juga menjadi cermin kepribadian dan pendidikan orangtua. Oleh karena itu, memberi nama yang baik bagi anak adalah sesuatu yang sangat penting. Rasulullah saw pun menganjurkan kepada orangtua yang memiliki cita-cita dan harapan untuk disematkan dan digambarkan melalui nama anak-anaknya. Dengan demikian, harapan orang tua kelak akan bisa dicapai atau dimiliki anak-anaknya. Amin Allahumma Amin. Dan sesungguhnya pada hari kiamat nanti, kita akan dipanggil dengan nama-nama kita dan nama ayah kita.
عن ابى الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انكم تدعون يوم القيامة باءسمائكم واسماء ابائكم فحسنوا اسماءكم (رواه ابو داوود وابن ماجه)
Artinya : Dari Abu Darda’ ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya kamu diseru pada hari kiamat dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu, maka baikkanlah nama-namamu (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam Alqur’an juga disebutkan
ادعوهم لابائهم هو اقسط عندالله ج فان لم تعلموا ابائهم فاءخوانكم فى الدين ومواليكم ج وليس عليكم جناح فيما اخطاءتم به صلى ولكن ما تعمدت قلوبكم ج وكان الله غفورا رحيما (الاحزاب : 5)
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al Ahzab: 5)
Hadirin rahimakumullah,
Lalu bagaimana langkah kita sebagai orangtua untuk bisa memiliki anak-anak shalih dan shalihah? Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan bagi umat Islam, mengajarkan hal ini dengan menuturkan kisah Luqman dalam mendidik anaknya, yang terdapat dalam surah Luqman [31] ayat 13-19. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Luqman mengajari anaknya dimulai dengan mengenalkan tauhid (mengesakan Allah). Hal ini sangat penting sebagai fondasi awal si anak dalam menyertai tindakan-tindakan kesehariannya. Ingatkah kita pada kisah Umar bin Khattab yang sedang berjalan-jalan seraya mengawasi aktivitas rakyatnya. Ia bertemu dengan seorang anak yang sedang menggembalakan domba-domba milik majikannya. Kemudian Umar mengujinya agar anak tersebut menjual satu ekor domba saja kepadanya, apalagi sang majikan tidak mengetahuinya. Apa jawaban si anak? Ternyata ia tidak tergoda dengan tawaran Umar lantaran ia takut kepada Allah swt. Meskipun majikannya tidak melihat apa yang ia lakukan, tetapi Allah swt melihatnya. Subhanallah.
Setelah itu, Luqman mengajarkan bagaimana cara berbuat baik kepada orangtua, dilanjutkan dengan pelaksanaan kewajiban kepada Allah swt berupa shalat, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran serta berlaku sabar. Demikian pula tentang tata cara berhubungan dengan sesama manusia, yaitu dengan bersikap rendah hati, tidak sombong dan angkuh, serta bersikap yang wajar ketika berjalan dan berbicara.
Nah, oleh karena itu kita sebagai calon-calon orang tua hendaknya mengajarkan kebaikan kepada anak-anak kita nantinya agar mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak. Dan menjauhkan mereka dari godaan-godaan dunia yang hanya bersifat sementara. Karena sesungguhnya dunia ini hanyalah sebuah panggung sandiwara dimana kita disini ibarat wayang yang dilakonkan oleh dalangnya dengan alur ceritanya adalah aktivitas kehidupan kita sehari-hari.
Ndonya niki panggung sandiworo, Ceritane polahe manungso
Paribasan wayang lan dalange, Opo lakone opo lakone
Yen wayange mung manut dalange
صلاة الله سلام الله على طه رسول الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Yun iyun iyun badan, badan siji bakale mati
Wonten ndonya nggadhahi doso, wonten akhirat dipun sikso
صلاة الله سلام الله على طه رسول الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Ya Allahu Ya Rabbi, Kulo nyuwun saged ngaji
Saged paham lan saged ngerti, dhateng ilmu ingkang manfa’ati
صلاة الله سلام الله على طه رسول الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Cilik cilik di wulang ngaji, mbesok gedhe supoyo ngaji
Ngaji Qur’an esok lan sore, yen wis pinter digawe dhewe
صلوا على النبي محمد
Hadirin rahimakumullah,
Demikianlah yang diajarkan Luqman kepada anaknya. Hendaknya kita juga bisa mengajarkannya kepada anak-anak kita kelak. Tentunya tidak hanya sekedar lewat perkataan, tetapi dengan perbuatan, memberikan contoh teladan yang dapat dilihat secara nyata oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari. Ringkasnya jika orang tua ingin anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah maka jadilah pula orangtua yang shalih dan shalihah.
Demikian yang dapat saya sampaikan.
Juminten gejedug mejo, cekap semanten atur kawulo. Mbok bilih wonten kalimat ingkang mboten trep wonten ing manah, kula nyuwun agunging samudro pangaksami.

وباالله توفق والهداية والعفو منكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...