السلام
عليكم ورحمةالله وبركاته
الحمدلله
الملك المبين الذي حيانا بالايمان واليقين اللهم صلي على سيدنا محمد خاتم الانبياء
والمرسلين وعلى اله الطيبين واصحابه الاخيار اجمعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين امابعد
Ingkang tansah kula hurmati, ustadz Mursid selaku dosen pembimbing
mata kuliah retorika dakwah
Sarto ingkang tansah kula tresnani rencang-rencang saperjuangan
PAI-1B ingkang insyaAllah dipunrahmati dening Allah swt.
Sepindah, sumangga panjenengan sedaya kula dhereaken tansah
ngunjukaken puja lan puji syukur wonten ing ngarsanipun Allah Swt., ingkang
sampun maringi pinten-pinten rahmat, pinten-pinten nikmat, hidayah saha
inayahipun saengga kitha sedaya saged makempal manunggal wonten ing majlis
punika kanthi sehat tanpo alangan setunggal menapa.
بقولنا الحمد لله رب العالمين
Shalawat saha salam mugio tansah kunjuk katur dateng junjungan
kitha Nabiyullah Nabi Agung Muhammad صلى الله عليه وسلم ingkang
sampun nggulawentah kitha sedaya wiwit jaman jahiliyah tumuju maring jaman
islamiyah. Mugio kitha sedaya pikanthuk syafa’atipun wonten ing yaumil
qiyamah.. امين امين يا رباالعالمين
Hadhirin rahimakumullah,
Berbicara tentang kewajiban orang tua terhadap anak, tentunya tidak
luput dari kewajiban untuk memberikan nama yang baik kepada anaknya. “Asma
ingkang sahe”, nggeh nopo nggeh? Namun apakah kewajiban orang tua terhadap anak
yang baru lahir hanya sebatas itu saja? Tentu saja tidak kan kawan-kawan? Nggeh
nopo nggeh? Nah, pada kesempatan kali ini mari kita ulas satu per satu mengenai
kewajiban orang tua terhadap anak yang baru lahir. Yang pertama, membacakan
adzan dan iqamah ketika lahir. Hal ini bertujuan untuk memperdengarkan kepada
sang bayi sejak dini tentang kalimat tauhid dan kalimat syahadat yang merupakan
pintu gerbang masuknya seseorang kedalam agama Islam. Selain itu, juga
menjauhkan si anak dari bisikan syaiton yang senantiasa menantikan kelahirannya
untuk dijadikan pengikutnya. Nabi Muhammad صلى الله
عليه وسلم mengajarkan kepada
umatnya untuk menyuarakan adzan bagi bayi yang baru dilahirkan di telinga
kanannya dan membacakan iqamah di telinga kirinya. Diriwayatkan dari Abu Rafi,
ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw beradzan di telinga Hasan bin Ali
ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Yang kedua adalah membersihkan mulut bayi. Dalam istilah Islam, ini
disebut dengan tahnik, yakni membersihkan mulut bagian atas bayi dari dalam
dengan kurma yang telah dikunyah sampai betul betul lumat.
عن عائشة ان رسول الله صلى الله
عليه وسلم كان يؤتي بالصبيان فيبرك عليهم ويحنكهم
“Dari Aisyah bahwa Rasulullah saw mendatangi beberapa bayi, lalu
mendoakan mereka agar mendapat keberkahan dan membersihkan mulut mereka.”
Yang ketiga adalah mencukur rambut kepala. Adapun tujuan mencukur
rambut disini selain mengikuti sunnah Rasulullah saw, menurut Ibnul Qayyim
adalah sebagai upaya penyehatan bagi sang bayi agar menjadi lebih terbuka,
rambutnya akan lebih subur, dan mungkin juga akan berpengaruh pada kekuatan
daya penglihatan, pendengaran, dan penciumannya.
Kemudian yang keempat adalah pelaksanaan aqiqah, yaitu memotong
domba atau kambing untuk bayi yang baru dilahirkan.
عن
سمرةبن جندب ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه
يوم سابعه ويحلق ويسمى رواه ابو داود
Diriwayatkan dari Samrah bin Jundub bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Semua anak tergantung (tergadai) dengan aqiqoh (domba)nya yang disembelih pada
hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (H.R. Abu Dawud)
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Ummu Karaz
Al-Ka’biyah bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang aqiqah,
beliau bersabda, “Untuk seorang anak laki-laki dua ekor dan untuk seorang anak
perempuan seekor, dan tidak ada salahnya domba jantan atau betina.” (H.R.
Tirmidzi) Namun ada hadits yang diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi bahwa Nabi
saw memotong seekor domba saja atas kelahiran Hasan dan Husain. Dengan
demikian, sebagian ulama memutuskan bahwa aqiqah bagi bayi laki-laki maupun
perempuan boleh sama, yaitu seekor domba. Dan terkait dengan waktunya, dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi aqiqah dapat dilakukan pada hari
ketujuh, atau hari keempat belas, atau hari kedua puluh satu. Namun beberapa
ulama berpendapat bahwa jika pada hari-hari tersebut belum juga dapat
dilaksanakan aqiqah maka dapat dilakukan pada hari yang lain yang memungkinkan.
Hadirin rahimakumullah,
Kewajiban orang tua terhadap anak yang selanjutnya adalah
memberikan nama yang baik. Ingat ya, “asma ingkang sahe” karena sejatinya nama adalah doa orangtua
kepada anaknya. Pandonga niku sayektine kan sing sahe, mosok nggih larene
diparingi asma sing mboten lumrah. Misal, su’udzon, farji, syaiton, lan
sanes-sanesipun. Nadyan asma niku wonten ingdalem Al Qur’an, ananging
maknanipun kan mboten sahe. Nggeh nopo nggeh? Kados hadits menika;
اكرموا اولادكم وحسنوا اسماءهم
(رواه ابن ماجه)
Artinya: Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah nama-namanya (H.R.
Ibnu Majah)
Hadhirin wal hadhirat, awake gering katoke mlorot,
Pemberian nama juga menjadi cermin kepribadian dan pendidikan
orangtua. Oleh karena itu, memberi nama yang baik bagi anak adalah sesuatu yang
sangat penting. Rasulullah saw pun menganjurkan kepada orangtua yang memiliki
cita-cita dan harapan untuk disematkan dan digambarkan melalui nama
anak-anaknya. Dengan demikian, harapan orang tua kelak akan bisa dicapai atau
dimiliki anak-anaknya. Amin Allahumma Amin. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
nanti, kita akan dipanggil dengan nama-nama kita dan nama ayah kita.
عن ابى الدرداء رضي الله عنه قال
: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انكم تدعون يوم القيامة باءسمائكم واسماء
ابائكم فحسنوا اسماءكم (رواه ابو داوود وابن ماجه)
Artinya : Dari Abu Darda’ ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya kamu diseru pada hari kiamat dengan nama-namamu dan nama-nama
ayahmu, maka baikkanlah nama-namamu (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam Alqur’an juga disebutkan
ادعوهم لابائهم هو اقسط عندالله ج
فان لم تعلموا ابائهم فاءخوانكم فى الدين ومواليكم ج وليس عليكم جناح فيما اخطاءتم
به صلى ولكن ما تعمدت قلوبكم ج وكان الله غفورا رحيما
(الاحزاب : 5)
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama
bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak
mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai)
saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap
apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh
hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al Ahzab: 5)
Hadirin rahimakumullah,
Lalu bagaimana langkah kita sebagai orangtua untuk bisa memiliki
anak-anak shalih dan shalihah? Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan bagi umat
Islam, mengajarkan hal ini dengan menuturkan kisah Luqman dalam mendidik anaknya,
yang terdapat dalam surah Luqman [31] ayat 13-19. Dalam ayat-ayat tersebut
dijelaskan bahwa Luqman mengajari anaknya dimulai dengan mengenalkan tauhid
(mengesakan Allah). Hal ini sangat penting sebagai fondasi awal si anak dalam
menyertai tindakan-tindakan kesehariannya. Ingatkah kita pada kisah Umar bin
Khattab yang sedang berjalan-jalan seraya mengawasi aktivitas rakyatnya. Ia
bertemu dengan seorang anak yang sedang menggembalakan domba-domba milik
majikannya. Kemudian Umar mengujinya agar anak tersebut menjual satu ekor domba
saja kepadanya, apalagi sang majikan tidak mengetahuinya. Apa jawaban si anak?
Ternyata ia tidak tergoda dengan tawaran Umar lantaran ia takut kepada Allah
swt. Meskipun majikannya tidak melihat apa yang ia lakukan, tetapi Allah swt
melihatnya. Subhanallah.
Setelah itu, Luqman mengajarkan bagaimana cara berbuat baik kepada
orangtua, dilanjutkan dengan pelaksanaan kewajiban kepada Allah swt berupa
shalat, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran serta berlaku sabar.
Demikian pula tentang tata cara berhubungan dengan sesama manusia, yaitu dengan
bersikap rendah hati, tidak sombong dan angkuh, serta bersikap yang wajar
ketika berjalan dan berbicara.
Nah, oleh karena itu kita sebagai calon-calon orang tua hendaknya
mengajarkan kebaikan kepada anak-anak kita nantinya agar mendapatkan
kebahagiaan di akhirat kelak. Dan menjauhkan mereka dari godaan-godaan dunia
yang hanya bersifat sementara. Karena sesungguhnya dunia ini hanyalah sebuah
panggung sandiwara dimana kita disini ibarat wayang yang dilakonkan oleh
dalangnya dengan alur ceritanya adalah aktivitas kehidupan kita sehari-hari.
Ndonya niki panggung sandiworo, Ceritane polahe manungso
Paribasan wayang lan dalange, Opo lakone opo lakone
Yen wayange mung manut dalange
صلاة الله سلام الله على طه رسول
الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Yun iyun iyun badan, badan siji bakale mati
Wonten ndonya nggadhahi doso, wonten akhirat dipun sikso
صلاة الله سلام الله على طه رسول
الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Ya Allahu Ya Rabbi, Kulo nyuwun saged ngaji
Saged paham lan saged ngerti, dhateng ilmu ingkang manfa’ati
صلاة الله سلام الله على طه رسول
الله # صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله
Cilik cilik di wulang ngaji, mbesok gedhe supoyo ngaji
Ngaji Qur’an esok lan sore, yen wis pinter digawe dhewe
صلوا على النبي محمد
Hadirin rahimakumullah,
Demikianlah yang diajarkan Luqman kepada anaknya. Hendaknya kita
juga bisa mengajarkannya kepada anak-anak kita kelak. Tentunya tidak hanya
sekedar lewat perkataan, tetapi dengan perbuatan, memberikan contoh teladan
yang dapat dilihat secara nyata oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Ringkasnya jika orang tua ingin anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah
maka jadilah pula orangtua yang shalih dan shalihah.
Demikian yang dapat saya sampaikan.
Juminten gejedug mejo, cekap semanten atur kawulo. Mbok bilih
wonten kalimat ingkang mboten trep wonten ing manah, kula nyuwun agunging
samudro pangaksami.
وباالله
توفق والهداية والعفو منكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Tidak ada komentar:
Posting Komentar