![]() |
| Farizkha Anggraeni with Mela Ferantika at Teluk Awur |
23 Februari 2012 menjadi kenangan tersendiri bagi sejarah kehidupanku. Ketika itu, aku masih duduk di bangku kelas XI SMA Negeri 1 Mijen Demak. Aku memang tercatat sebagai anggota PMR WIRA SMA N 1 Mijen dan ketika itu tengah diamanati untuk menjadi bendahara. Suka duka menjadi anggota PMR tentu saja ada. Tetapi bagiku, lebih banyak suka yang menghiasi kehidupanku sebagai anggota PMR Wira SMA N 1 Mijen. Diantaranya yakni aku bisa berkenalan dengan kawan-kawan baru dari berbagai sekolah dan tentunya mendapatkan ilmu tentang kepalangmerahan yang diharapkan bisa membantu sesama ketika dibutuhkan nanti.
Foto yang ada diatas diambil ketika kegiatan penanaman mangrove di
desa Kedung Mutih. Orang yang ada disampingku adalah sahabatku. Yah, meskipun
kami terkadang berselisih paham tentang sesuatu, tetapi dalam waktu yang
singkat kami bisa akur kembali dan menemukan jalan keluar terbaik untuk kami
berdua.
Kegiatan penanaman mangrove untuk kali ini memang yang pertama kali
dilakukan di SMA N 1 Mijen dan pada selanjutnya menjadi program kerja
kepengurusan PMR. Seperti biasa, kami berangkat dengan menggunakan mobil bak
terbuka dengan semilir angin yang sungguh luar biasa. Meskipun jauh, namun
perjalanan itu tidak terasa karena sepanjang perjalanan kami selalu bersenda
gurau membicarakan suatu hal yang aku rasa sebenarnya hal tersebut tidak perlu
untuk dibicarakan. Aku masih ingat, ketika kegiatan PMR itu, pada malam harinya
aku bersama sebagian anggota bantara (yang juga merupakan anggota PMR)
ambalan Harjuna-Srikandi tengah mengikuti kegiatan penerimaan calon anggota
penegak (CAPA) di SMA Islam An-Nidhom. Meskipun dalam kondisi lelah, ngantuk
berat, pada pagi harinya kami tetap bersemangat mengkuti kegiatan PMR tersebut.
Modal kami hanya satu, yakni tekad untuk menyelamatkan lingkungan pantai yang
dirasa membutuhkan pertolongan karena sering terkena abrasi.
![]() |
| Mela Ferantika (Anggota PMR WIRA SMA N 1 Mijen) |
Suatu catatan tersendiri ketika aku dan teman-teman menanam tanaman
mangrove di daerah tersebut. Namun sebelum itu, kami mendapat sambutan dari
kepala desa. Bayangkan, dalam keadaan sangat mengantuk, aku memaksa mataku
untuk tetap terjaga mendengarkan sambutan dari kepala desa. Saat itu, aku dan
sebagian temanku memang bisa dibilang “cewek strong”. Semangat kami
tetap membara mengikuti kegiatan tersebut. Setelah sambutan dari kepala desa
selesai, kami berjalan menuju tempat pembudidayaan mangrove. Disana kami
diberikan penyuluhan mengenai cara-cara melestarikan dan merawat tanaman
tersebut. Selain itu, kami juga bisa mengamati secara langsung bibit-bibit
mangrove yang ada disana.
Petualangan pun berlanjut. Kami menuju ke tempat pembuatan garam.
Disana, kami diperlihatkan bagaimana proses pembuatan garam dari awal sampai
tahap finishing sehingga siap dipasarkan. Selain itu, satu per satu
diantara kami juga mendapatkan oleh-oleh garam bata “gratis” dari tempat
tersebut. Satu hal yang tak terlupakan dari tempat itu adalah ketika kami
tengah makan siang, hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Yahh, makan
sambil hujan-hujanan deh J Tak
mengapa lah, yang penting tetap kenyang dan mengesankan. Apalagi dengan
datangnya hujan, datang pula sejuta kenangan didalamnya. Kata orang, hujan
menyimpan sejuta kenangan tentang cita dan cinta. Hujan selalu memberikan
kedamaian bagi siapapun yang mendapatinya. Tentang hujan, tentangku,
tentangnya, tentang kenanganku bersamanya.
Inilah saat-saat yang ditunggu. Kegiatan puncak dari serangkaian
kegiatan pada hari itu, yakni terjun langsung untuk menanam mangrove. Antusias
dari kami dan Bapak Ibu guru pendamping sangat luar biasa. Kami berlomba-lomba
untuk cepat sampai ditempat tujuan dan menanam mangrove sebanyak-banyaknya.
Banyak cerita dan pengalaman yang tidak bisa aku sampaikan melalui tulisan ini.
Yang pasti kami (keluarga besar PMR Wira SMA N 1 Mijen) merasa bahagia dan
menikmati petualangan kami di hari itu. Suatu hal yang tidak dapat kami lupakan
dan tidak terlupakan sampai kapanpun.
Tanaman mangrove memang sangat berarti bagi keberlangsungan
kehidupan di daerah pantai. Tanpa adanya tanaman tersebut, pasti akan sering
terjadi abrasi yang tentunya menimbulkan berbagai dampak buruk bagi manusia dan
ekosistem yang ada di sekitar daerah tersebut. Oleh karena itu, mari kita
bersama-sama menjaga keutuhan ekosistem pantai dan menjaga keberlangsungan kehidupan
yang ada disana. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan
lagi?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar