Sabtu, 26 November 2016

Satu Mangrove untuk Sejuta Kebahagiaan

Farizkha Anggraeni with Mela Ferantika at Teluk Awur

23 Februari 2012 menjadi kenangan tersendiri bagi sejarah kehidupanku. Ketika itu, aku masih duduk di bangku kelas XI SMA Negeri 1 Mijen Demak. Aku memang tercatat sebagai anggota PMR WIRA SMA N 1 Mijen dan ketika itu tengah diamanati untuk menjadi bendahara. Suka duka menjadi anggota PMR tentu saja ada. Tetapi bagiku, lebih banyak suka yang menghiasi kehidupanku sebagai anggota PMR Wira SMA N 1 Mijen. Diantaranya yakni aku bisa berkenalan dengan kawan-kawan baru dari berbagai sekolah dan tentunya mendapatkan ilmu tentang kepalangmerahan yang diharapkan bisa membantu sesama ketika dibutuhkan nanti.
Foto yang ada diatas diambil ketika kegiatan penanaman mangrove di desa Kedung Mutih. Orang yang ada disampingku adalah sahabatku. Yah, meskipun kami terkadang berselisih paham tentang sesuatu, tetapi dalam waktu yang singkat kami bisa akur kembali dan menemukan jalan keluar terbaik untuk kami berdua.
Kegiatan penanaman mangrove untuk kali ini memang yang pertama kali dilakukan di SMA N 1 Mijen dan pada selanjutnya menjadi program kerja kepengurusan PMR. Seperti biasa, kami berangkat dengan menggunakan mobil bak terbuka dengan semilir angin yang sungguh luar biasa. Meskipun jauh, namun perjalanan itu tidak terasa karena sepanjang perjalanan kami selalu bersenda gurau membicarakan suatu hal yang aku rasa sebenarnya hal tersebut tidak perlu untuk dibicarakan. Aku masih ingat, ketika kegiatan PMR itu, pada malam harinya aku bersama sebagian anggota bantara (yang juga merupakan anggota PMR) ambalan Harjuna-Srikandi tengah mengikuti kegiatan penerimaan calon anggota penegak (CAPA) di SMA Islam An-Nidhom. Meskipun dalam kondisi lelah, ngantuk berat, pada pagi harinya kami tetap bersemangat mengkuti kegiatan PMR tersebut. Modal kami hanya satu, yakni tekad untuk menyelamatkan lingkungan pantai yang dirasa membutuhkan pertolongan karena sering terkena abrasi.
Mela Ferantika (Anggota PMR WIRA SMA N 1 Mijen)
Suatu catatan tersendiri ketika aku dan teman-teman menanam tanaman mangrove di daerah tersebut. Namun sebelum itu, kami mendapat sambutan dari kepala desa. Bayangkan, dalam keadaan sangat mengantuk, aku memaksa mataku untuk tetap terjaga mendengarkan sambutan dari kepala desa. Saat itu, aku dan sebagian temanku memang bisa dibilang “cewek strong”. Semangat kami tetap membara mengikuti kegiatan tersebut. Setelah sambutan dari kepala desa selesai, kami berjalan menuju tempat pembudidayaan mangrove. Disana kami diberikan penyuluhan mengenai cara-cara melestarikan dan merawat tanaman tersebut. Selain itu, kami juga bisa mengamati secara langsung bibit-bibit mangrove yang ada disana.
Petualangan pun berlanjut. Kami menuju ke tempat pembuatan garam. Disana, kami diperlihatkan bagaimana proses pembuatan garam dari awal sampai tahap finishing sehingga siap dipasarkan. Selain itu, satu per satu diantara kami juga mendapatkan oleh-oleh garam bata “gratis” dari tempat tersebut. Satu hal yang tak terlupakan dari tempat itu adalah ketika kami tengah makan siang, hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Yahh, makan sambil hujan-hujanan deh J Tak mengapa lah, yang penting tetap kenyang dan mengesankan. Apalagi dengan datangnya hujan, datang pula sejuta kenangan didalamnya. Kata orang, hujan menyimpan sejuta kenangan tentang cita dan cinta. Hujan selalu memberikan kedamaian bagi siapapun yang mendapatinya. Tentang hujan, tentangku, tentangnya, tentang kenanganku bersamanya.
Inilah saat-saat yang ditunggu. Kegiatan puncak dari serangkaian kegiatan pada hari itu, yakni terjun langsung untuk menanam mangrove. Antusias dari kami dan Bapak Ibu guru pendamping sangat luar biasa. Kami berlomba-lomba untuk cepat sampai ditempat tujuan dan menanam mangrove sebanyak-banyaknya. Banyak cerita dan pengalaman yang tidak bisa aku sampaikan melalui tulisan ini. Yang pasti kami (keluarga besar PMR Wira SMA N 1 Mijen) merasa bahagia dan menikmati petualangan kami di hari itu. Suatu hal yang tidak dapat kami lupakan dan tidak terlupakan sampai kapanpun.

Tanaman mangrove memang sangat berarti bagi keberlangsungan kehidupan di daerah pantai. Tanpa adanya tanaman tersebut, pasti akan sering terjadi abrasi yang tentunya menimbulkan berbagai dampak buruk bagi manusia dan ekosistem yang ada di sekitar daerah tersebut. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga keutuhan ekosistem pantai dan menjaga keberlangsungan kehidupan yang ada disana. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permata yang Hilang

Permata yang Hilang Bagi sebagian orang, memiliki seorang adik adalah sesuatu yang sangat didambakan selama masa kecilnya. Namun tak ja...